|
Senja
Sering dibayangkannya bahwa awan-awan yang putih di bentangan langit biru itu adalah pulau-pulau kapas. Kadang, awan itu membentuk bentangan air terjun yang membeku, atau gunung karang putih yang mengambang di lautan biru.
Sehari penuh dia amati setiap perubahan yang ada di langit sana. Dan ketika awan-awan itu kian memerah dan akhirnya hilang oleh gelap malam, dia pun berjalan pulang ke rumahnya. Di sapanya rumput, batu, tanah dan perdu. Disenyuminya angin yang dengan nakal menyusup-nyusup di sela rambutnya.
Sesampainya di rumah, dia disambut keheningan yang berjingkrak-jingkrak bagai kanak-kanak menyambut ibu pulang dari pasar. Gelap, beranda rumahnya, berisi kursi plastik yang jebol di sana-sini, serta selapis debu siang hari.
Disapanya mawar merah dalam pot di beranda itu dengan siraman air. Kemudian dinyalakannya saklar dan beranda menunjukkan wajahnya yang samar-samar. Beberapa serangga mengitari bola lampu, seperti bergembira menyaksikan kehidupan ada di rumah itu.
Apa yang bisa dilakukannya setelah semua pintu kantor tertutup baginya? Tak ada lagi sisa pekerjaan. Kantor tak membutuhkan seorang laki-laki kurus, apatis, dan lamban seperti dia. Kantor tak membutuhkan otak yang selalu menolak dan menilai sebuah tugas. Tidak. Pintu-pintu kantor terbuka bagi mereka yang muda, gesit, dan tak banyak tanya; kecuali jumlah billing yang akan diterima kantor. Mereka bicara hanya soal insentif.
Apa yang bisa dilakukannya setelah semua pintu kantor tertutup baginya? Tak ada lagi sisa pekerjaan. Kantor tak membutuhkan seorang laki-laki kurus, apatis, dan lamban seperti dia. Kantor tak membutuhkan otak yang selalu menolak dan menilai sebuah tugas. Tidak. Pintu-pintu kantor terbuka bagi mereka yang muda, gesit, dan tak banyak tanya; kecuali jumlah billing yang akan diterima kantor. Mereka bicara hanya soal insentif.
Laki-laki itu mendesah. Sejak semuanya tersapu badai krisis 98, istrinya pun minggat bersama --entah siapa. Meninggalkan semua, bahkan juga kenangan.
Laki-laki itu duduk, setelah tentu saja mandi, memasak mi instan dan memakannya di beranda. Sebatang kretek menyala dan terselip di sela jarinya yang kurus. Entah mengapa, dia ingin sekali menengok kotak pos di pagar. Dengan lesu, dia berjalan dan membuka kotak pos itu. Tak di sangkanya di sana ada sepucuk surat.
Dengan harap-harap cemas dia segera mengambil surat itu, membukanya buru-buru, dan mencari tempat di bawah lampu untuk membacanya. Surat itu berasal dari seseorang yang tak dikenalnya. Si pengirim menyebutkan bahwa dia mendapatkan alamat serta nama si laki-laki itu dari seseorang yang "...kenal betul dengan bakat anda..", begitu yang tertulis di situ.
Dia tertegun. "Bakat?" gumamnya. Lalu dilanjutkannya membaca. Intinya, setelah panjang lebar menguraikan berbagai hal, si pengirim meminta laki-laki itu untuk bertandang ke rumahnya di kompleks perumahan mewah di kota itu.
Dia tertegun. "Bakat?" gumamnya. Lalu dilanjutkannya membaca. Intinya, setelah panjang lebar menguraikan berbagai hal, si pengirim meminta laki-laki itu untuk bertandang ke rumahnya di kompleks perumahan mewah di kota itu.
Aneh. Mengapa dia tak langsung saja datang. Mengapa harus berkirim surat, jika tinggal di kota yang sama? Di situ, di bawah tanda tangan si pengirim, disertakan sebuah nomor telepon.
Usai membaca, laki-laki itu duduk lagi di kursi plastik jebolnya. Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di benaknya --entah apa, dia sendiri tak begitu paham. Dengan cepat dihisapnya rokok kretek itu. Asap mengepul-ngepul, sebelum lenyap ditiup angin.
Usai membaca, laki-laki itu duduk lagi di kursi plastik jebolnya. Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di benaknya --entah apa, dia sendiri tak begitu paham. Dengan cepat dihisapnya rokok kretek itu. Asap mengepul-ngepul, sebelum lenyap ditiup angin.
Bergegas pula dia ke telepon, dan sambil melihat nomor yang ada di surat itu dia pun menekan-nekan angka yang dimaksud. Dia terdiam beberapa saat. Kemudian, "Haloo..." dan terjadilah pembicaraan yang agak tersendat-sendat.
Laki-laki itu banyak terdiam, mendengarkan. Jika pun harus menjawab, bibirnya hanya menyuarakan "oke" atau "baik", dan paling banyak "ya". Pembicaraan itu akhirnya selesai, setelah si laki-laki menjawab, "sama-sama."
Kembali dia duduk di beranda, sambil mencoba menyatukan berbagai kilasan bayangan di pembicaraan telepon tadi. Dinyalakannya sebatang rokok lagi. Lalu, sesaat setelah hisapan ketiga baru saja dilakukan, dia seakan mendapat jawaban akan apa yang seharusnya dilakukan.
***
Hari itu adalah hari ketiga dia "bekerja" di rumah si pengirim surat. Dan bahkan sampai hari ketiga itu pun, dia tak tahu siapa si pengirim surat. Dia hanya berhubungan dengan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai "pembantu" si tuan rumah. Dan si "pembantu" itu pun enggan menyebutkan namanya. Laki-laki kurus itu tak keberatan. Apalah artinya dia mengetahui nama seseorang, jika hal itu tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Bukankah dunia tempat dia hidup sudah memberinya semacam ekosistem seperti itu?
Seperti dua hari sebelumnya, dia duduk dan menunggu reaksi orang yang ditungguinya. Yang ditungguinya itu adalah seorang gadis muda, jelita, namun gila. Begitulah si "pembantu" bos besar itu mengatakannya dua hari yang lalu.
***
Hari itu adalah hari ketiga dia "bekerja" di rumah si pengirim surat. Dan bahkan sampai hari ketiga itu pun, dia tak tahu siapa si pengirim surat. Dia hanya berhubungan dengan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai "pembantu" si tuan rumah. Dan si "pembantu" itu pun enggan menyebutkan namanya. Laki-laki kurus itu tak keberatan. Apalah artinya dia mengetahui nama seseorang, jika hal itu tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Bukankah dunia tempat dia hidup sudah memberinya semacam ekosistem seperti itu?
Seperti dua hari sebelumnya, dia duduk dan menunggu reaksi orang yang ditungguinya. Yang ditungguinya itu adalah seorang gadis muda, jelita, namun gila. Begitulah si "pembantu" bos besar itu mengatakannya dua hari yang lalu.
"Lalu, apa hubungannya dengan saya? Kalau dia gila, bawa saja ke rumah sakit gila..."
"Sudah. Dokter mengatakan bahwa dia tidak apa-apa."
"Sudah. Dokter mengatakan bahwa dia tidak apa-apa."
"Kok, aneh? Kok, situ bisa mengatakan bahwa dia gila?"
"Ayahnya sendiri yang mengatakan begitu. Saya cuma meneruskan ucapannya kepada Anda."
"Terus, apa saya ini dianggap dukun?"
"Terus, apa saya ini dianggap dukun?"
"Saya tidak tahu, Anda dukun atau bukan. Yang penting, Sampean diminta untuk mengupayakan agar dia sembuh. Begitu kata bos."
Laki-laki itu sebetulnya tak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap gadis cantik yang katanya gila itu. Dia hanya duduk dan menatapnya.
Ditatapnya sepasang bola mata yang bening namun kosong itu. Tak ada siapa-siapa di dalam bola mata itu. Gadis itu sendiri seperti telah pergi, atau mengembara ke negeri jauh, entah apa namanya.
Ini sudah hari yang ketiga. Dan laki-laki itu sendiri sudah putus asa menghadapi sesuatu yang tak jelas ini. Dia ingin mengatakan kepada si "pembantu" bos bahwa dia menyerah. Namun, ada sesuatu yang membuatnya batal mengatakan maksudnya.
Secara iseng, laki-laki itu kemudian mengambil sebuah patung kuda perunggu, yang memang bagus. Diperkirakannya, itu buatan Italia. Detil pada surai, bahkan pada bungkah otot-ototnya membuat kuda perunggu itu tampak bernyawa.
"Haha... apa kabar tuan putriku? Apakah hari ini tuan putri siap berjalan-jalan?" ucapnya sambil memainkan kuda yang hanya segenggaman tangan itu. Kuda itu digerak-gerakkannya di depan wajah si gadis.
Si "pembantu" hanya mendesah. Di benaknya hanya ada satu ungkapan "gila ternyata menular".
"Kita akan membelah awan. Tahukah tuanku bahwa awan sesungguhnya adalah sebuah daratan di langit. Dia tergantung, dan tidak terdiri dari tanah dan batu. Seluruh pohon, bahkan air yang ada di sana, adalah kabut putih yang indah. Dan manakala matahari bersinar, pohon-pohon di negeri awan itu akan tembus, laksana kristal."
"Kita akan membelah awan. Tahukah tuanku bahwa awan sesungguhnya adalah sebuah daratan di langit. Dia tergantung, dan tidak terdiri dari tanah dan batu. Seluruh pohon, bahkan air yang ada di sana, adalah kabut putih yang indah. Dan manakala matahari bersinar, pohon-pohon di negeri awan itu akan tembus, laksana kristal."
"Bawa aku."
"Ten...tu, tentu." Tiba-tiba si laki-laki tercekat mendengar ucapan itu. Dia seperti tak menyangka bahwa itu diucapkan si gadis.
Si "pembantu" bos pun agaknya juga terheran-heran. Bagaimana mungkin, setelah bertahun-tahun, gadis itu "pergi" dari tubuhnya, mendadak kembali hanya karena bualan si laki-laki. Dia segera menelepon bosnya melalui hp.
Sementara itu, laki-laki kurus itu seperti melihat ada cahaya kehidupan di bola mata bening itu. Dia berhati-hati mengutarakan keindahan yang dikhayalkannya. Dan untuk beberapa kali, dia sempat menyaksikan senyum kecil tersungging di sudut bibir gadis cantik itu.
"Kau harus membawaku ke sana."
"Kau harus membawaku ke sana."
"Baik. Apakah tuan putri ingin naik ke punggungku?"
"Apakah kau bisa terbang?"
"Bisa. Lihat?" Laki-laki itu mengangkat kuda perunggu itu tinggi-tinggi melampaui kepalanya sendiri.
Si gadis tertawa kecil, matanya mengikuti ke mana pun gerak tangan si laki-laki terarah. Dan ketika si laki-laki pura-pura menjatuhkan kuda perunggu itu, si gadis terpekik dan tertawa senang.
Gunung es itu telah cair dan laki-laki itu seakan menemukan beranda rumahnya terang benderang. Mawar yang ada di pot kecil di beranda itu seakan berkembang dan mengharum.
***
Seminggu kemudian, gadis itu mau berdandan dan mengajak laki-laki itu berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas. Dia dengan manjanya merangkul lengan laki-laki itu. Dan tentu saja, laki-laki itu menjadi muda kembali --meskipun usianya belumlah setua wajahnya.
***
Seminggu kemudian, gadis itu mau berdandan dan mengajak laki-laki itu berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas. Dia dengan manjanya merangkul lengan laki-laki itu. Dan tentu saja, laki-laki itu menjadi muda kembali --meskipun usianya belumlah setua wajahnya.
"Mas pernah menikah, ya?"
"Ya...dengan seekor kupu-kupu," candanya.
Gadis itu tergelak, "Cantik, tentunya..."
"Ya. Secantik kupu-kupu. Serapuh kupu-kupu..."
"Ke mana dia sekarang?"
"Terbang. Bukankah kupu-kupu selalu ingin dikejar?"
Kembali gelak tawa si gadis terdengar. "Kok, Mas tidak mengejarnya?"
"Capek."
"Capek? Kalau begitu selama menikah Mas mengejar dia terus-menerus?"
"Ya."
"Mas tidak suka mengejar perempuan, ya?"
"Capek."
"Capek? Kalau begitu selama menikah Mas mengejar dia terus-menerus?"
"Ya."
"Mas tidak suka mengejar perempuan, ya?"
"Ya. Capek."
"Mas tidak mencari pacar?"
"Tidak. Capek."
"Capek terus, sih?"
"Ya. Hidupku sudah amat melelahkan. Kamu sendiri ke mana saja selama ini?"
"Jalan-jalan."
"Ke mana?"
"Jalan-jalan."
"Ke mana?"
"Ke mana saja, asal tidak di rumah."
"Mengapa?"
"Capek?," jawabnya singkat menirukan gaya bicara si laki-laki. Keduanya kemudian tertawa bahagia. Sebuah dunia yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Kata ayahmu, kamu mau dikawinkan. Dan sejak percakapan itu, kamu ?"menghilang". Mengapa, nggak suka sama calon suamimu?"
"Capek?," jawabnya singkat menirukan gaya bicara si laki-laki. Keduanya kemudian tertawa bahagia. Sebuah dunia yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Kata ayahmu, kamu mau dikawinkan. Dan sejak percakapan itu, kamu ?"menghilang". Mengapa, nggak suka sama calon suamimu?"
"Tahu dari mana?"
"Tuh, dia yang mengatakan padaku?," jawab si laki-laki sambil menunjuk pada si "pembantu".
"Herder macam dia dipercaya."
"Herder macam dia dipercaya."
"Herder? Terlalu bagus; buldog," tambah si laki-laki sambil tertawa. Si gadis pun tertawa.
Setelah itu hening. Setelah hening, "Aku capek Mas. Semuanya ditentukan dan sudah ada jalurnya. Aku nggak bisa mengatakan "tidak", ya, akhirnya aku pilih diam saja."
"Mas, mau nggak, ngajak aku ke rumahmu?"
Setelah itu hening. Setelah hening, "Aku capek Mas. Semuanya ditentukan dan sudah ada jalurnya. Aku nggak bisa mengatakan "tidak", ya, akhirnya aku pilih diam saja."
"Mas, mau nggak, ngajak aku ke rumahmu?"
Laki-laki itu terdiam. Dia bukan saja ingin mengajak gadis cantik itu ke rumahnya, tetapi bahkan ke atas ranjangnya. Dia ingin memeluk dan menumpahkan kegersangan jiwanya selama ini ke tubuh si gadis itu.
"Ada syaratnya...," akhirnya si laki-laki berkata.
"Apa?"
"Kau harus mau jadi istriku."
"Kau harus mau jadi istriku."
"Mengapa?"
"Ya?pokoknya harus," jawab laki-laki itu sekenanya.
"Ya?pokoknya harus," jawab laki-laki itu sekenanya.
"Kalau?pacar?"
"Wah..."
"Kalau pacar, gimana?"
"Wah..."
"Kalau pacar, gimana?"
"Ya?mmm... gimana, ya?"
"Kita pacaran dulu."
"Ah, kamu kayak kupu-kupu."
"Tidak. Kupu-kupu hanya memberi isyarat agar dikejar. Aku tidak ingin kejar-kejaran. Aku hanya ingin kenal lebih lama."
"Begini, Dinda," baru kali itu laki-laki itu mengucapkan nama si gadis, "tugasku untuk "menyembuhkan" kamu sudah selesai. Kamu, kan... sekarang sudah bisa bicara dan tertawa."
"Jadi Mas pergi? Lalu mengunciku dalam ruang kenangan?"
"Jadi Mas pergi? Lalu mengunciku dalam ruang kenangan?"
"Tidak. Bukan maksudku begitu."
"Kalau Mas pergi, aku akan "pergi" lagi."
"Jangan, dong..."
"Kenapa?"
Laki-laki itu diam, dalam hati dia juga bertanya, apa sebetulnya yang tengah terjadi dalam hidupnya ini.
Laki-laki itu diam, dalam hati dia juga bertanya, apa sebetulnya yang tengah terjadi dalam hidupnya ini.
"Mas nggak merasa bahagia bersama aku?"
"Bahagia, karena melihat kamu bisa ceria lagi. Kembali lagi seperti dulu kala."
"Sok tahu. Aku nggak mau seperti dulu. Aku mau seperti besok, seperti yang akan datang..."
"Jangan aneh-aneh."
"Jangan aneh-aneh."
"Aku nggak aneh-aneh. Aku cuma kepingin bisa bicara apa saja yang aku suka. Aku hanya ingin tertawa, kapan saja aku mau. Dan itu semua hanya bisa kulakukan dengan Mas. Kalau Mas nggak ada, lantas...?"
"Bapak-ibumu nggak bisu, kan?"
"Siapa, tuh?"
"Siapa, yang siapa?"
"Bapak-ibu."
"Hus. Sama orang tua, kok, begitu."
"Hus. Sama orang tua, kok, begitu."
"Siapa yang orang tua?"
"Ah, anak sekarang. Dosa besar kamu mengingkari orang tua sendiri."
"Siapa yang Mas sebut orang tua?"
"Ya...orang yang mbayar aku, yang kasih honor aku puluhan juta rupiah ini. Siapa lagi?"
"Ooo?orang tua itu?"
"Ooo?orang tua itu?"
"Hei?jangan ngawur, lho."
"Tidak, aku tidak ngawur. Orang tua itu, kan?"
Laki-laki itu menatap Dinda dengan pandangan menyelidik. Sepasang mata Dinda seperti sengaja menyambut tatapannya. Seakan mempersilakannya masuk dan membongkar setiap relung dan liku yang ada di dalamnya.
***
Laki-laki itu, yang biasanya hanya diam menatapi awan-awan berserakan di langit, yang merasa hidupnya kosong melompong, tiba-tiba kalang kabut. Betapa tidak, Dinda yang selama ini diketahuinya adalah anak seorang kaya, yang sakit jiwa dan karenanya si bapak mencarikannya dukun, dan secara kebetulan memilih laki-laki itu, ternyata hanyalah bapak angkat Dinda. Dan si bapak angkat ternyata menginginkan Dinda seutuhnya. Dia menyayangi Dinda dan memaksakan diri masuk ke dalam ruang-ruang kesucian anak angkatnya itu. Tak mengherankan jika Dinda membeku.
Laki-laki itu, yang biasanya hanya diam menatapi awan-awan berserakan di langit, yang merasa hidupnya kosong melompong, tiba-tiba kalang kabut. Betapa tidak, Dinda yang selama ini diketahuinya adalah anak seorang kaya, yang sakit jiwa dan karenanya si bapak mencarikannya dukun, dan secara kebetulan memilih laki-laki itu, ternyata hanyalah bapak angkat Dinda. Dan si bapak angkat ternyata menginginkan Dinda seutuhnya. Dia menyayangi Dinda dan memaksakan diri masuk ke dalam ruang-ruang kesucian anak angkatnya itu. Tak mengherankan jika Dinda membeku.
Laki-laki itu mendidih mendengar semuanya, dan karenanya, entah dengan pertimbangan apa, dia segera mengajak Dinda terbang mengendarai kuda terbang.
Dia mendadak merasa menjadi Pronocitro yang mengajak terbang Roro Mendut dari kungkungan Adipati Wiroguno.
Tetapi, laki-laki itu tiba-tiba merasa capek. Dia tak ingin mengejar dan dikejar. Dia hanya ingin duduk tenang di beranda rumahnya yang sepi dan berdebu. Dia hanya ingin setiap kali menyirami mawarnya, ada kesegaran yang menyiram jiwanya.
Seperti senja itu. Laki-laki itu kembali duduk di beranda rumahnya, dan merokok. Dia dengan segera melipat halaman-halaman indah buku kehidupannya --walau hanya beberapa lembar-- bersama Dinda.
Di keheningan senja, di beranda rumahnya, dia hanya bisa membayangkan Dinda berada di sampingnya, meskipun saat itu, mungkin berada dalam pelukan orang lain. Laki-laki itu benar-benar merasa lelah, bahkan sekadar untuk mengakui bahwa dirinya seorang laki-laki.
Dongeng Cinta Sadewa – Rasawulan
Ada janur kuning melengkung di Bumirawatu, Ksatrian Raden Sadewa. Raden Sadewa, bungsu Pandawa, akhirnya menikahi Dewi Rasawulan. Mulanya dia emoh. Sadewa memang penggemar berat lagu Koes Plus, Bujangan. Sepanjang hidup ia ingin jadi perjaka. Tapi, akhirnya mantenan juga. Melengkunglah janur kuning di Bumiratawu alias Wukiratawu.
”Kamu ngerti makna janur kuning, Nduk?” tanya Cangik, ponokawan perempuan kepada anaknya, Limbuk.
”Mudeng, Mak. Dalam uba rampe pernikahan, hiasan tebu itu maksudnya….”
”Aku nanya janur kuning kok jawabanmu tebu…Duaasar Jaka Sembung bawa golok…”
”Lha tadi malam Sampeyan juga nggak nyambung, kok. Aku tanya, Mak berapa jumlah orang yang nangis di Nuswantoro setelah Mbak Sri Mulyani pergi jauh? Mak jawab, Presiden Indonesia itu namanya Pak SBY, Nduk, Limbuk.”
”O, kalau itu…Karena Emakmu ini nggak tahu berapa jumlah orang nangis sak Indonesia sekarang karena kasus Century akan dipeti-eskan. Kalau cuma jumlah penangis yang tidak lulus ujian nasional, mungkin Emakmu masih bisa itung. Makanya Emakmu ini kasih jawaban yang lain, yang Emak tahu saja…”
”Sama, Mak. Aku ndak tahu apa makna janur kuning dalam hajatan nikah. Ngertiku cuma makna tebu, makanya ta’ jawab yang tahu-tahu saja, yaitu soal tebu.”
”Apa coba, makna tebu itu…”
”Hmmm…tebu itu antebing kalbu. Kalbu yang mantap. Lanang-wadon mempelai mesti mempunyai tekad yang kuat dan padu sebelum melaksanakan ijab kabul.”
”Wah ck ck ck…Pinteeeeer…Gemuk-gemuk tanpa potongan kayak kamu, ternyata masih pinter. Ndak percuma Emakmu ini mendoakan kamu siang malam, puasa sampai badanku kurus kerempeng seperti ini…”
”Oalah, Maaak, Mak, tirakat buat anak semata wayang kok malah diunjuk-unjukkan. Sampek pamer badan kerempeng seperti lidi. Prihatin buat anak mbok yang ikhlas, ridlo, tulus...Lihat Dewi Kunti. Sayang banget pada anak tirinya, Raden Sadewa. Tapi Dewi Kunti ndak pernah-pernahnya pamer prihatin itu. Jarene kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan…”
”Itu kan dulu, Nduk, zamannya Empu Sen-dok. Sekarang sudah zaman Empu Sen-tury. Ya, masih mending ibu berdoa buat anak meskipun nggak tulus, ketimbang ibu membunuh anak kandungnya sendiri, mbanting bayi, membuang ke got, peceren…Aku ndak mateni kamu lho. Masio kamu itu gemuk bunder ser kayak jemblem…”
”Jemblem?”
”Onde-onde zaman Ki Hadjar Dewantara, Nduk. Ya persis kamu, nggak ada potongan. Padahal gajah gemuk ditambah beri-beri ditambah bengkak dipukuli Satpol PP saja masih ada potongan-potongannya lho…Eh, tapi nggak papa ding, kan jelek-jelek begini kamu pinter…Tahu artinya tebu dalam pelaminan…”
”Ya tapi sekarang tebu sudah jarang banget, Mak. Tegal-tegal tebu hampir punah. Pabrik-pabrik gula pada tutup. Padahal dulu kita pernah jaya…Kabupaten Situbondo saja punya lima pabrik gula. Belum Semboro di Kabupaten Jember. Prajekan di Kabupaten Bondowoso. Wah, setiap buka giling ada pesta rakyat, plembungan, wayang kulit…waduh…Gula kita produksi sendiri. Ndak kenemenen tergantung impor. Sekarang? Hiks…hiks…hiks…”
”Hush cup cup cup. Sudah. Jangan nangis. Sudah. Limbuk. Anakku. Ndak usah nangis. Kalau tebu kamu sudah tahu maknanya, sekarang kelapa cengkir itu apa maknanya?”
”Cengkir…hiks…hiks..hiks..artinya…hiks…kencenging pamikir hiks…hiks…Pikiran mempelai harus berubah…hiks…dari hiks…hiks…Hijrah dari pikiran kanak-kanak ke pikiran orang dewasa…”
***
Makna yang terkandung dalam kelapa cengkir dan tebu saja ternyata tak cukup. Dewi Rasawulan, Putri Raja Selamerah Prabu Rasadewa, ternyata punya ide dadakan. Ia baru bersedia dipersunting pria yang sanggup menjelaskan arti kata cinta.
Oooo…kagyat risang kapirangu rinangkul kinempit-empit…duh sang retnaning bawono….derodog dog dog…
Maka batallah sayembara perang memperebutkan sang dewi yang sudah telanjur berlangsung di Alun-alun Selamerah. Adipati Karna yang memimpin bala Kurawa berkemas pulang. Raden Dursasana dari Ksatrian Banjarjunut tak tahu harus berbuat apa. Orang Kurawa ini cuma atebah jojo atampel wentis, memukul-mukul dada dan betisnya sendiri ketika dapat kabar pahit. Rombongan wakilnya untuk melamar Rasawulan pulang tanpa hasil.
Begitu juga Arjuna dari keluarga Pandawa. Utusan pelamarnya boleh sakti-sakti mandraguna sura tan taha. Sebut saja Raden Antareja, ponakannya, dan Bambang Irawan, anaknya. Tapi mereka juga pulang bertangan hampa.
”Hehehe…Tenang, Yayi Arjuna,” nasihat Sri Kresna pada adik iparnya itu. ”Dan si Adi tidak usah tersinggung bahwa kamu ditampik secara halus oleh Dewi Rasawulan…Firasatku, satu orang saja di dunia yang bisa menjelaskan arti cinta: adikmu, Sadewa…”
Mendengar namanya disebut, Sadewa yang menyukai lagu Koes Plus, Bujangan, langsung oncat, pergi tanpa pamit menonton Piala Dunia di televisi. Pikirnya, buat apa menikah bila nyatanya jauh lebih merdeka menjadi bujangan.
Arjuna cepat merajuk pada Sri Kresna, ”Sadewa tidak mau kawin….O, bagaimana kalau atas nama saya, Kaka Prabu Kresna menjelaskan arti cinta kepada Dewi Rasawulan…”
Bima nggereng tidak terima, ambil mengacungkan kuku Pancanaka. ”Haaaaaaa….Arjuna gak idep isin. Istri sudah banyak. Anak tidak terhitung. Masih juga gatel pengin kawin….”
Kresna tak sudi membuang waktu. ”Gatutkaca,” serunya dalam nada perintah kepada anak Bima itu, ”Segera kamu susul pamanmu Sadewa. Bawa ke depan Dewi Rasawulan. Minta tolong pamanmu Sadewa untuk menjelaskan arti cinta di depan sang dewi…”
”Waduh, waduh, terima kasih, Wa Prabu Kresna…Sungguh hamba tidak menyangka bahwa akhirnya Paduka menjodohkan hamba dengan Dewi Rasa…”
”Rasa endasmu itu, Gatutkaca..!!! Hihihi…Bukan buat kamu..!!! Seolah-olah saja pamanmu Sadewa itu menjelaskan cinta atas nama kamu. Tapi, sesungguhnya, nantinya, lihat saja yang terjadi…Berangkat!”
***
O, Gancanging carito kadyo wong kang munggel kawi… Ringkas cerita, Raden Gatutkaca sudah berhasil mengusung pamannya ke hadapan Dewi Rasawulan. Benarlah firasat Sri Kresna, Sadewa alias Tangsen, pemuda yang tepat untuk menjelaskan cinta.
Orang yang hidupnya penuh dengan cinta, saban hari dilingkupi cinta, pasti sanggup menjelaskan cinta. Kembar Nakula-Sadewa adalah anak-anak yang dicintai Dewi Kunti siyang pantareng ratri, siang-malam. Kunti mencintai anak angkatnya kembar Pingten-Tangsen itu jauh melebihi cintanya pada anak kandungnya sendiri, Puntadewa, Bima, dan Arjuna.
Juga atas nama cintalah kembar Nakula dari Ksatrian Sawojajar dan Sadewa dari Ksatrian Wukiratawu juga dilahirkan. Ayah mereka, Prabu Pandu Dewanata, suami Dewi Kunti dan Dewi Madrim, sudah tahu kutukan dewa. Ia bakal mati ketika bercinta dengan Madrim. Toh Pandu tetap saja menyelenggarakan cinta di malam purnama itu.
Akhirnya, Pandu tewas sesaat setelah persenggamaan. Sesaat setelah lahir jabang bayi kembar Nakula-Sadewa, setelah Kunti menyatakan kesanggupannya untuk merawat dan membesarkan mereka, Dewi Madrim, adik Prabu Salya, atas nama cinta menyusul arwah suaminya. Ia lakukan upacara pembakaran diri.
Tapi, kenapa Sri Kresna kok hanya meminta Sadewa? Kenapa sang Harimurti itu tidak juga mencoba meminta Nakula untuk menjelaskan cinta?
”Sudah jangan kebanyakan nanya,” potong Madusudana alias Kresna. ”Halaman Wayang Durangpo Minggu ini sudah hampir habis. Nanti lakonnya ndak rampung-rampung.”
Agar cerita cepat rampung, ringkasnya, Dewi Rasawulan sudah bersimpuh dan merangkul betis Raden Sadewa tanpa disadari oleh Sadewa karena bungsu Pandawa ini sedang khusu’ menjelaskan arti cinta.
”….Dan cinta tak kenal pengorbanan,” lanjut Sadewa. ”Cinta perlu pengorbanan? Hmm…Itu salah kaprah. Kamu mencintai seseorang? Kamu tak akan pernah merasa berkorban untuk seseorang itu. Sesamudera apa pun kesusahan dan jerih payah yang telah kamu lakukan…”
Baru setelah ucapan itu Sadewa tersadar Dewi Rasawulan telah merangkul dan menciumi betisnya. Sadewa oncat meninggalkan taman Selamerah. Bersamaan itu datanglah Prabu Dirgamayapati dari Kerajaan Simbarmanyuro yang ingin merebut paksa Dewi Rasawulan. Gatutkaca tanggap. Pamannya langsung diamankan, yaitu secara magis dikecilkan dan dimasukkan ke dalam kancing gelung di kepala Gatutkaca.
Prabu Dirgamayapati masih terus memburu Dewi Rasawulan, hingga sang dewi kepontal-pontal dan nyaris seluruh busananya tanggal. Gatutkaca akhirnya sanggup melindungi Rasawulan. Tanpa pikir panjang, sang putri yang sudah nyaris telanjang itu dikecilkan dan dimasukkannya ke dalam kancing gelung yang sama.
Hah? Setengah telanjang? Apa yang lalu terjadi pada kancing gelung Gatutkaca yang di dalamnya ada perjaka tenguk-tenguk itu? Yo, embuh, Rek. Yang jelas, setelah malam menanjak di kancing gelung Gatutkaca itu ada gamelan Kebogiro dan Monggang bertalu-talu, ada tebu dan kelapa cengkir, serta melengkunglah janur kuning di Bumirawatu. ***
Rasanya Baru Kemarin...
Rasanya
Baru kemarin
Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.
Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDIP saja.
Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Menteri-menteri yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi
Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pemerintah yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat
Baru kemarin
Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.
Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDIP saja.
Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Menteri-menteri yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi
Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pemerintah yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat
Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh
Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya
Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya
Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan
Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,
dan Kura-kura Ninja
Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan
Rasanya
Baru kemarin
Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya
Rasanya
Baru kemarin
(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)
Rasanya
Baru kemarin
Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis
Dilalap krisis dan anarkis
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri
Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum
Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.
Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi
Rasanya baru kemarin
Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita
Merdeka.
Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa
Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa
Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka
Rasanya baru kemarin
Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata
Rasanya baru kemarin
Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi
Rasanya baru kemarin
Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian
Rasanya baru kemarin
Legislatif yang lama sekali non aktif
Dan yudikatif yang pasif
Mulai pandai menyaingi eksekutif
Dalam mencari insentif
Rasanya baru kemarin
Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik
Rasanya
Baru kemarin
Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru
Rasanya
Baru kemarin
Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan
Sudah mulai kebingungan menerima orderan
NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis
Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis
Rasanya
Baru kemarin
Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan
Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi
Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati
Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini
Rasanya baru kemarin
Habibie sudah meninggalkan
Negeri menenangkan diri
Gus Dur sudah meninggalkan
Atau ditinggalkan partainya seorang diri
Rasanya baru kemarin
Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya
Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman
Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan
Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan
Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar
menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar
Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar
Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar
SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga
Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka
Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara
Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan
Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan
Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan
Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar
Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar
Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar
Rasanya baru kemarin
Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan
Obyek dan dipilihkan
Kini sudah dimerdekakan Tuhan
Dapat sendiri menentukan pilihan
Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan
Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan
Rakyat yang kebingungan mencari panutan
Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan
(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaiman rasanya
Merdeka?)
Rasanya baru kemarin
Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus
Aku sendiri tetap menjadi tikus
(Hari ini
setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)
Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita
Merdeka
(Ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)
Jangan anggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi. Apalagi menganggapku pintar, itu salah besar. Sesungguhnya aku bodoh, berotak bebal. Tiap tahun, lima ranking paling buncit di kelas, salah satunya pasti milikku. Jadi, kalau pun naik kelas, kupikir karena nasib baik saja.
Setelah lancar mengeja, menulis, menjumlah, dan cukup tahu sedikit tentang sejarah, tak ada lagi manfaat yang kupetik dari sekolah. Di mataku, gedung itu malah menyerupai lintah. Makin hari makin bengkak, saking rakusnya menghisap darah. Aku dipaksa membeli buku ini itu atau membayar biaya ini itu. Kalau tak dituruti, siap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari.
Teman-temanku selalu mencemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman. Mereka malah menganggapku sok pintar. Aku bahkan pernah disindir. Kata mereka, "Hei, Lela, kalo sudah bosen sekolah, kenapa masih datang kemari?" atau "Memangnya mau ngapain kalo nggak sekolah?!"
Aku murid perempuan yang bodoh. Tapi, itu penilaian guru dan teman-temanku. Mereka tak tahu bahwa aku adalah pengamat sepatu yang baik. Bukankah itu satu kelebihan tersendiri?
Entah sejak kapan aku punya kebiasaan aneh itu. Otakku cepat merekam berbagai jenis dan bentuk sepatu yang melintas di dekatku. Kadangkala, sifat seseorang bisa kutebak lewat sepatu yang dikenakannya. Rena, misalnya. Orang tuanya pasti borju. Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. Kalau kemarin cokelat, hari ini merah, besok tunggu saja warna apa lagi yang dipakainya. Ditambah lagaknya yang angkuh, tentu tebakanku jitu. Si Bengal Dodi lain lagi. Dia duduk di depanku. Sepatu sebelah kirinya sudah robek. Kaos kakinya coklat kumal. Jika angin berhembus, tercium aroma tengik dari bawah meja. Sementara, aku dan murid lainnya cuma punya sepasang sepatu yang harus kami rawat baik-baik untuk dikenakan setiap hari.
Entah sejak kapan aku punya kebiasaan aneh itu. Otakku cepat merekam berbagai jenis dan bentuk sepatu yang melintas di dekatku. Kadangkala, sifat seseorang bisa kutebak lewat sepatu yang dikenakannya. Rena, misalnya. Orang tuanya pasti borju. Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. Kalau kemarin cokelat, hari ini merah, besok tunggu saja warna apa lagi yang dipakainya. Ditambah lagaknya yang angkuh, tentu tebakanku jitu. Si Bengal Dodi lain lagi. Dia duduk di depanku. Sepatu sebelah kirinya sudah robek. Kaos kakinya coklat kumal. Jika angin berhembus, tercium aroma tengik dari bawah meja. Sementara, aku dan murid lainnya cuma punya sepasang sepatu yang harus kami rawat baik-baik untuk dikenakan setiap hari.
***
Kami, aku dan bapak, menghuni bedeng berdinding kayu. Letaknya masuk ke dalam gang dengan liku menyerupai labirin. Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. Bau busuk got mampat, aroma ikan asin digoreng, lalat hijau menari di atas gumpalan dahak, musik dangdut, kata-kata kasar, tangis bayi, jalan becek, genteng bocor di musim hujan, perkakas dapur beterbangan, adalah pemandangan biasa bagi kami. Kalau sudah garis tangan untuk melarat sampai berkarat, mau diapakan lagi?
Kami, aku dan bapak, menghuni bedeng berdinding kayu. Letaknya masuk ke dalam gang dengan liku menyerupai labirin. Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. Bau busuk got mampat, aroma ikan asin digoreng, lalat hijau menari di atas gumpalan dahak, musik dangdut, kata-kata kasar, tangis bayi, jalan becek, genteng bocor di musim hujan, perkakas dapur beterbangan, adalah pemandangan biasa bagi kami. Kalau sudah garis tangan untuk melarat sampai berkarat, mau diapakan lagi?
Aku besar di lingkungan yang keras. Kawasan tempat tinggal kami tersohor sebagai kompleks pelacuran di kota ini. Ibarat akar pohon yang menancap kuat dalam tanah, julukan itu tak bisa dirobohkan lagi. Sama seperti rasa benciku pada ibu. Janjinya cuma dua tahun kerja di Malaysia. Begitu kontrak kerja sebagai TKW selesai, dia mau pulang. Membuka usaha kecil-kecilan dengan uang simpanan. Nyatanya ibu berdusta. Sampai sekarang dia tak pernah pulang. Malah dalam surat terakhirnya, ibu mengabarkan bahwa sudah kawin lagi di seberang sana. Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya, mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya. Ah, tahi kucing dengan ibu.
Meski ditinggalkan ibu, bapak tetap setia dengan kios kecilnya. Hasil dagangan dipakai untuk menyumpal perut kami, juga membayar biaya sekolahku. Aku sudah kelas enam SD. Kata tetangga, aku malah kelihatan seperti anak SMP. Penasaran dengan celetukan mereka, sekali waktu aku bercermin. Tubuhku memang bongsor. Sepasang bukit telah muncul di dadaku. Pinggangku juga ramping. Pantas bapak sering menasehati agar hati-hati bergaul di sekitar tempat ini.
Di depan gang, ada seruas jalan yang selalu ramai bila malam membentangkan layar. Di sana hingar-bingar, warna-warni, penuh tawa. Hampir di setiap rumah tergantung plang bertuliskan "Wisma", "Losmen", atau "Karaoke". Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. Tua muda. Cantik jelek. Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor. Aku pernah mencoba berdandan, meniru gaya mereka. Tapi, aku tak berani merokok seperti mereka. Bapak bisa menamparku kalau ketahuan merokok.
Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, mbak-mbak itu memesan minuman ringan atau rokok. Bapak tak bisa meninggalkan kios begitu saja. Jadi, tugaskulah untuk mengantar pesanan para tamu.
***
Aku duduk sendirian di pojok kelas. Teman-temanku menganggap siapa yang menghuni bangku belakang, kalau bukan anak badung pasti anak bodoh. Karena itulah, aku nyaris tak punya teman. Mereka kadang menghindar atau menatap curiga kalau aku mendekat.
Aku duduk sendirian di pojok kelas. Teman-temanku menganggap siapa yang menghuni bangku belakang, kalau bukan anak badung pasti anak bodoh. Karena itulah, aku nyaris tak punya teman. Mereka kadang menghindar atau menatap curiga kalau aku mendekat.
Di sekolah tak diajarkan bagaimana membaca situasi dan memenangkannya. Teman-temanku tak tahu apa yang kulakukan di pojok kelas. Mereka hanya duduk rapi dan tegang menyimak pelajaran yang diberikan guru. Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. Apalagi kalau tiba-tiba dipanggil ke depan kelas, dan ternyata tak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis. Wajah mereka mirip kerbau dungu saat berdiri dengan sebelah kaki terangkat.
Sepatu guru pun tak luput dari pengamatanku. Biasanya, ketika mereka berkeliling mengawasi ulangan, aku suka mencuri pandang ke arah sepatu mereka. Kuselidiki warna, bentuk, jenis, hingga perangai pemakainya. Nah, inilah yang membuatku heran. Dari dulu sampai sekarang, sepatu guru-guruku tak berubah. Ada yang kulitnya terkelupas. Ada yang dijahit berkali-kali. Bahkan ada yang sepatunya sudah tak muat lagi, tapi tetap saja dikenakan hingga jemari kakinya membayang jelas.
Apakah guru-guruku tak punya sepatu cadangan? Atau gaji mereka tak cukup untuk membeli sepatu baru?
***
Ini malam minggu. Malam yang panjang. Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. Ramai orang berarti ramai pembeli. Rokok, minuman ringan, bir, dan kacang kulit, pasti laku keras. Isi kios berkurang. Isi dompet bapak bertambah. Hidup terasa lebih ringan. Aku dan bapak bisa tersenyum sekejap.
Ini malam minggu. Malam yang panjang. Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. Ramai orang berarti ramai pembeli. Rokok, minuman ringan, bir, dan kacang kulit, pasti laku keras. Isi kios berkurang. Isi dompet bapak bertambah. Hidup terasa lebih ringan. Aku dan bapak bisa tersenyum sekejap.
Aku tak pernah mengeluh meski terkadang kerja sampai larut malam. Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. Tapi mulai sekarang aku harus lebih waspada. Jangan sampai kecolongan seperti malam Minggu kemarin. Ada seorang lelaki mengelus pundak dan meremas bokongku. Dasar bajingan. Dipikirnya aku sama seperti mbak-mbak menor itu.
"Lela, cepat kemari!" Kulihat wajah bapak terang diguyur cahaya petromaks. Tangannya melambai ke arahku. Bergegas kuhampiri bapak. Aku membawa cerita bagus untuknya. Barusan tadi aku mengantar dua botol bir hitam, kacang, dan lima bungkus rokok ke salah satu rumah. Pembelinya orang bule, awak kapal yang siang tadi merapat di pelabuhan. Dia memberiku uang lima puluh ribu rupiah. Mbak Sari yang menggelendot di pinggang bule tinggi besar itu, mengedipkan matanya ke arahku. Dia bilang ambil saja kembaliannya untukku. Tentu saja aku girang. Buru-buru kutinggalkan mereka. Tak kupedulikan wajah si bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami.
Bapak tertawa ngakak waktu kuceritakan kejadian barusan. "Hahaha, bagus Lela. Biar tahu rasa dia. Sekali-kali orang macam itu memang harus dikerjain. Masak, dari dulu sampai sekarang, kita dijajah terus-terusan sama mereka. Hahaha "
Bapak menyodorkan plastik hitam padaku. Isinya dua botol air mineral dan sebungkus rokok. Aku harus mengantarnya ke rumah Tante Mila. "Pembelinya sudah mesan dari tadi," kata bapak. Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. Ini sudah keenam kali aku pulang balik mengantar pesanan. Dengan uang di kantong, lelah jadi tak terasa. Rumah yang kutuju seolah bisa dijangkau dengan sekali lompatan.
Aku terkejut melihat sepasang sepatu yang tergeletak serampangan di depan pintu. Sepatu kulit tua model kuno itu mengingatkanku pada sesuatu. Pelajaran matematika yang menjemukan dan gurunya yang menyebalkan. Ya, ya, Pak Songong, dia paling jago membentak dan menghukum murid yang tak bisa mengerjakan soal. Ia juga suka membelai-belai punggung murid wanita, dan mencuri pandang ke arah kancing atas murid wanita yang menunduk ketakutan di sebelahnya.
Aku yakin, sepatu ini milik Pak Songong, guru matematikaku. Aku hafal benar bentuk dan jenisnya. Warnanya cokelat tua, mirip sepatu koboi yang yang kulihat di film-film. Jika sedang menapak lantai, bunyinya klotak-klotak menyeramkan.
Apa yang dilakukan Pak Songong di sini? Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru? Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. Moral seseorang tak bisa diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya.
Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini pada seisi kelas, apakah mereka percaya? Atau, lebih baik aku diam saja? Goblok! Buat apa berfikir sejauh itu?! Kalau pintu ini kuketuk, lalu wajah Pak Songong menyembul di muka pintu, dia pasti kaget bukan main, mengetahui pesanannya diantar muridnya. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang harus kulakukan? Ah, kami pasti sama-sama malu. ***
Nyanyian lautan
Sebaiknya aku tidak pulang saja. Biar saja begitu. Aku sendiri tak percaya mereka akan mencariku. Jangan-jangan, mereka bahkan bergembira karena piring nasi yang seharusnya disediakan, berkurang satu.
Aku tidak mungkin pulang dengan nilai ulangan "5" seperti ini. Apalagi, ini pelajaran wajib dan sebetulnya sangat mudah. Aku tidak mungkin pulang dan menyerahkan diri ditempelengi bapak atau dicubiti ibu. Tidak. Kali ini lebih baik aku tidur di pantai. Mungkin lebih baik berendam di gua pasir. Tapi, makan apa? Ah, kepiting saja bisa makan, mengapa aku tidak bisa...
Sebetulnya, aku benci pelajaran bahasa Indonesia. Aku tidak suka, karena menurutku aneh. Coba simak, "Anto dan Anti selalu memberi salam kepada orangtua mereka, setiap pagi dan sore. Anto dan Anti adalah anak titik-titik. Lalu disediakan jawaban: a. Baik. b. Nakal. c. Tidak Sopan.
Terus terang semuanya tidak pernah kualami. Mungkin buat Anto dan Anti --anak mana sebetulnya mereka-- apa yang mereka lakukan adalah baik. Tetapi bagiku, bagaimana mungkin? Sebelum ayam-ayam tetangga bangun, ayah-ibuku sudah tidak di rumah. Lalu, setelah lewat Isya, ketika perutku sudah terlalu lapar, sehingga sebaiknya tidur, mereka baru datang. Kalau mereka baik hati, ada sebungkus nasi dan telur asin di meja kami satu-satunya dan itu artinya untuk aku. Tetapi kalau tidak, aku hanya akan mengalah dan tidur di mana pun kepalaku tersandar. Aku tidak bisa mengucapkan salam, tidak mungkin itu. Rumahku hanya berisi kesunyian. Dan aku hanya sering bicara pada sepatu karet bututku sendiri, yang sudah setahun ini tak pernah kucuci (untuk apa pula, kan selalu kotor?)
Pernah aku mengucapkan salam, dan kuucapkan dengan segala keraguanku, kepada mereka. Dan tahukah kau jawaban mereka: "habis makan apa, dia?"
***
Karena aku tidak suka, maka aku tidak memilih jawaban yang disediakan. Untuk apa? Aku tidak tahu apakah aku akan dianggap anak baik atau anak jahat, ketika aku harus mengucapkan salam kepada orang tuaku. Aku benci Anto dan Anti. Mereka seenaknya saja memberi contoh kepadaku, seolah mereka lebih pintar dariku. Dan percayalah masih banyak lagi yang seperti itu. Jadinya, aku memilih tidak menjawab jika ada soal-soal semacam itu. Akibatnya, nilaiku tak pernah lebih dari "5".
Karena aku tidak suka, maka aku tidak memilih jawaban yang disediakan. Untuk apa? Aku tidak tahu apakah aku akan dianggap anak baik atau anak jahat, ketika aku harus mengucapkan salam kepada orang tuaku. Aku benci Anto dan Anti. Mereka seenaknya saja memberi contoh kepadaku, seolah mereka lebih pintar dariku. Dan percayalah masih banyak lagi yang seperti itu. Jadinya, aku memilih tidak menjawab jika ada soal-soal semacam itu. Akibatnya, nilaiku tak pernah lebih dari "5".
Karena nilaiku banyak yang "merah" maka bapak selalu memberiku tempelengan dan makian. Ibu dengan jarinya yang kuat itu menjewer telingaku, terkadang rambut di depan telingaku. Aku bahkan tak berani menangis. Aku tidak tahu mengapa mereka marah karena raporku selalu banyak merahnya. Aku tak mengerti mengapa mereka jengkel dengan nilai-nilai ulanganku yang kebanyakan "4 dan 5" ini?
***
"Utaaaa..."
Aku menoleh. Itu teriakan Nini, kawan sekelasku. Mau apa anak itu. Ah, bintang kelas yang cantik, tapi tak punya otak.
"Utaaaa..."
Aku menoleh. Itu teriakan Nini, kawan sekelasku. Mau apa anak itu. Ah, bintang kelas yang cantik, tapi tak punya otak.
"Utaaa... tunggu."
"Mau apa, sih?" jawabku dengan pertanyaan jengkel.
"Bareng kamu, pulang."
"Aku tidak pulang, kok.."
"Kenapa?"
"Ya, nggak pulang, aja."
"Ya, nggak pulang, aja."
"Nanti dimarahi orang tuamu..."
"Mereka nggak di rumah, mana mungkin bisa marah?"
Nini terdiam, dia pasti tak punya jawaban apa-apa, karena dia memang tak tahu apa-apa. Mungkin dia kuberi nama "Anti" saja; anak "baik" itu.
"Ulanganmu tadi dapat berapa?"
"Bagus."
"Berapa?"
"Pokoknya bagus."
"Berapa?"
"Pokoknya bagus."
"Aku dapat sembilan. Cuma salah satu. Aku kurang teliti, sih.. Uta, kalau dapat bagus, kamu dapat hadiah nggak dari ayah-ibumu?"
"Dapat."
"Apa?"
"Apa saja."
"Apa?"
"Apa saja."
"Waw, asyik sekali. Aku --kalau nilaiku bagus dapat hadiah player MP3..."
Aku diam saja. Aku tidak mengerti ucapannya dan mengapa dia begitu bangganya dengan sesuatu yang diucapkannya itu.
"Nanti, kalau sudah dibelikan, kamu boleh, kok, pinjam. Kita bisa mendengarkan lagu-lagu asyik," ujarnya tanpa kuminta.
Cuma mendengarkan lagu saja dia sudah bangga. Lagipula siapa yang mau pinjam?
"Kamu mau ke mana, sih?" tanyanya mengulangi pertanyaannya semula.
"Kamu mau ke mana, sih?" tanyanya mengulangi pertanyaannya semula.
"Pokoknya nggak ke rumahku."
"Lho, nanti nggak dapat hadiah."
"Masa bodo." Lalu, aku pun setengah berlari meninggalkan Nini yang aku yakin betul kepalanya makin kosong itu. Apa pedulinya aku dapat hadiah atau tidak. Aku cuma tak ingin mendapat tempelengan dan jeweran. Aku cuma ingin sendirian di pantai. Aku cuma ingin mendengar camar, debur ombak, angin, mungkin awan, mungkin hujan, apa pun, kecuali omelan dan makian mereka.
***
Kulalui rumah-rumah orang kampung. Kudengar bunyi-bunyi aneh dari permainan anak-anak yang tentunya asyik bermain di depan televisi mereka. Antena-antena televisi bersembulan, seakan galah-galah untuk mengusirku dari lingkungan mereka
Kulalui rumah-rumah orang kampung. Kudengar bunyi-bunyi aneh dari permainan anak-anak yang tentunya asyik bermain di depan televisi mereka. Antena-antena televisi bersembulan, seakan galah-galah untuk mengusirku dari lingkungan mereka
. Satu dua kali aku sempat mendengar panggilan, sepertinya memanggil namaku, tapi aku tak peduli. Aku tahu, tentunya mereka temanku, tapi apa peduliku. Mereka hanya peduli pada permainan mereka sendiri. mereka adalah anak-anak baik yang selalu memberi salam pada orang tua mereka dan karenanya mendapatkan hadiah.
***
Udara panas naik. Kurasakan kulitku terbakar matahari. Angin asin menjambak rambutku dengan kasar. Deru angin seakan menulikan telingaku. Mataku cuma memandang biru dan buih putih menggulung-gulung. Sesekali kulihat elang melayang di langit. Juga ada gumpalan awan di sana. Tak ada orang. Hanya aku dan laut. Itu yang aku suka.
Udara panas naik. Kurasakan kulitku terbakar matahari. Angin asin menjambak rambutku dengan kasar. Deru angin seakan menulikan telingaku. Mataku cuma memandang biru dan buih putih menggulung-gulung. Sesekali kulihat elang melayang di langit. Juga ada gumpalan awan di sana. Tak ada orang. Hanya aku dan laut. Itu yang aku suka.
Aku suka suasana ini. Aku bisa bermain dengan kepiting atau siput-siput laut. Kadang aku menemukan cangkang kerang yang aneh bentuknya. Sering pula aku menemukan cangkang penyu, tertutupi pasir. Ah, lihatlah, kau harus melihatnya --mereka tak pernah memaksaku menyukainya, tetapi aku sudah langsung mencintainya. Mereka tak pernah menuntutku. Mereka hanya tersenyum dan aku mengerti apa yang mereka maksudkan.
Dan menjelang senja nanti kau akan menyaksikan walet-walet berkelebat gesit, berkejaran di langit lautan. Di sana, di dekat karang yang menjorok ada ceruk, dan biasanya ikan-ikan berkumpul di sana. Dan di sana, setiap sore, ketika matahari sudah berada di balik karang itu, camar-camar akan berteriak girang, mencoba menangkap ikan di ceruk itu. Gema suara camar itu begitu merdu di telingaku. Mereka mempersembahkan lagu terindah bagiku. Mereka mendongengkan sesuatu yang tak mungkin bisa kuceritakan padamu. Aku pernah mencoba menceritakan ini semua, ketika disuruh mengarang oleh guruku.
Kutuliskan apa yang kualami di pantai ini. Kulukiskan bagaimana kerang-kerang itu mengisahkan cerita seorang gadis kecil yang selalu menyanyi di pantai itu. Seorang gadis kecil menggendong adiknya yang masih bayi, menyanyi menunggui ibu mereka yang telah menjelma ikan di lautan . Ibu mereka, tutur cangkang kerang itu padaku, terpaksa pergi karena digebuki suaminya yang hanya bisa mabok dan memaki-maki istrinya. Ibu mereka saat itu nyaris mati dipukul dengan dayung. Dayung itu hingga patah tiga, menghantam wajah si ibu yang sudah berlumuran darah. Semuanya gara-gara sang ayah ingin makan ikan goreng, yang saat itu dimakan si anak kecil itu.
Kisah itu membuatku terharu, sehingga aku menuliskannya di lembaran kertas karanganku. Dan dengan bayangan aku akan mendapat pujian dari guruku, kuserahkan lembar karanganku itu kepadanya.
Hasilnya: "4".
Guruku berkata bahwa karanganku mengada-ada dan tidak sesuai perintahnya. "Uta," katanya, "Pak Guru meminta kamu menulis tentang rumahmu, kebiasaanmu, mulai bangun pagi sampai pulang sekolah. Pak Guru meminta kamu membuat gambaran apa saja yang kamu temui di rumah, di jalan dan sebagainya, bukan ngarang-ngarang begini.. Ini apa? Ini kan, bohong. Pak Guru tidak mengajarkan kamu agar berbohong, kan?"
"Tidak Pak...," jawabku saat itu. Sebetulnya aku enggan menjawab, tetapi...
"Besok, Pak Guru ingin bertemu dengan ayah ibumu lagi..." dan kata-kata itu mengunciku dalam ketakutan. Bayangan caci-maki bahkan tempelengan sudah muncul, begitu ucapan itu selesai.
Aku tak berani menyampaikan ucapan Pak Guru pada orang tuaku. Mana mungkin? Setelah kedua kalinya mereka datang ke sekolah dan mendapatkan bahwa anaknya tak bisa apa-apa di kelas, dan untuk itu hanya tempelengan yang kuterima, mana mungkin untuk ketiga kalinya mereka mau datang? Tidak. Mereka tak akan mau datang. Mereka hanya akan marah dan menempelengiku sekeras kemarahan mereka.
Tapi, Pak Guru suatu malam datang ke rumahku. Aku sudah tidur. Aku terbangun karena ada suara orang bercakap-cakap. Semuanya kupahami dengan baik dan aku pun bersiap menghadapi tempelengan lagi. Dan itu memang terjadi. Oleh karenanya, semua keindahan yang kualami di pantai ini, tak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun.
***
Malam ini, sebaiknya aku memilih gua pasir itu. Sebuah ceruk karang dengan lantai pasir hangat, yang tentunya sangat nyaman sebagai tempat tidur. Di sana, di dekat tempat camar-camar itu menyanyi riang menangkapi ikan.
Aku akan menikmati semuanya, sendirian. Tak ada orang lain yang kuizinkan mengambilnya. Di sini, tak ada lagi pertanyaan bodoh dengan pilihan jawaban yang tolol seperti di kertas ulangan itu. Di sini tak ada lagi "Ayah pergi ke kantor dan ibu memasak di dapur". Ah, orang tua siapa pula di sini yang ayahnya pergi ke kantor? Semua ayah di sini adalah nelayan. Semua ibu di kampung ini adalah penjemur ikan asin milik Koh Ang. Yang sering ke dapur sebetulnya aku --kalau memang ada yang dimasak.
Mungkin ayah dan ibu Nini memang begitu, dan karenanya bisa membelikan hadiah. Tetapi, bagiku, semua yang tertulis di buku sekolahku tak ada yang bisa kutemukan di hidupku setiap hari. Mungkin satu atau dua...selebihnya, bohong. Dan aku benci bohong. Dan laut tidak bohong. Karenanya aku suka laut.
Malam ini aku akan mendengarkan kisah-kisah kerang, yang sudah berkelana ke tujuh samudera. Kisah-kisah anak-anak lain yang membagi kesedihan, keriangan, kebebasan, dengan caranya yang jujur. Aku bisa tertawa, menangis dan terdiam oleh keindahan kisah-kisah kerang. Mungkin sebaiknya aku menjelma ikan saja atau kerang. Ah, sebaiknya aku mencair saja, menjadi bagian dari butiran laut.
Aku akan berkelana ke mana aku suka. Atau kalau aku marah, aku akan menghantam sekolahku, guruku, buku-buku dan semua yang membohongiku. Mereka tidak membuatku berpikir lain, kecuali pilihan yang sudah disediakan. Aku tidak suka. Dan aku tidak boleh tidak suka, karena kalau memang boleh, mengapa nilaiku selalu "5"?
Aku sungguh tidak mengerti.
Hanya laut dan isinya yang mengerti mengapa malam ini aku ingin meringkuk di ceruk gua pasir. Apalagi malam ini rasanya bulan akan bersinar bulat di atas lautan, yang tak enak kalau disaksikan dari jendela rumahku. Di sini lebih terang, kurasa.
***
Aku tak akan pulang. Aku yakin akan membuat kedua orang tuaku gembira, karena satu perut yang seharusnya diisi makanan telah hilang.
Sebentar, aku harus membuat istana pasir di sini..
GERIMIS
Dia diam. Hanya badannya yang bersandar di tembok sesekali terguncang pelan. Ada danau menggenangi matanya. Ya, dia menangis diam-diam.
Sudah hampir dua jam aku merayunya berbicara. Namun, seberapa kalimat yang meluncur dari bibirku, selama itu pula ia memilih tak berbicara.
jujur aku bingung. Bibir mungilnya yag terbiasa ramai oleh bunyi kini terbungkam rapat tanpa suara. “Berceritalah..!” pintaku. Tetap tak tersahuti.
“Katakan di pucuk pohon mana kau menginginkan kita bercinta?” tanyaku menggodanya.
Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.
Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.
Dia masih saja diam.
Sementara di luar, gerimis mulai turun. Sesekali tempias airnya masuk melewati lubang jendela kamarku yang tak tertutup rapat.
Kulirik jam dinding, sudah pukul 17.13 WIB. Beberapa jam sudah berlalu sejak ia datang dalam diam. Aku sudah mulai kelelahan merayunya berbicara. Aku pun sudah hampir kehilangan kalimat-kalimatku sendiri. Aku mulai…
tiba-tiba saja dia berbicara “Aku hamil…tidak denganmu. tapi orang lain” di luar masih saja gerimis..
Sebuah pesan singkat tiba2 muncul dalam inbox HP-ku.
"Kutunggu di taman yang dulu, jam lima sore ini. Salam. Alana"
Aku masih tak percaya. Kuulangi sekali lagi membacanya. Masih sama. Tak ada satu pun huruf yang berubah.
Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan teknologi aku mencoba mengamankan perasaanku dengan berusaha tak percaya.
Bagaimana mungkin Alana tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupanku.
Telah delapan tahun aku mencoba mengubur segala ingatan tentangnya.
Let the dead is dead. Yang mati biarlah mati.
Aku berusaha kembali menekuri pekerjaanku yang nyaris terancam deadline. Tinggal satu halaman saja, maka aku bisa menyetorkannya pada redaktur sore ini juga.
Tak terlampau susah buatku untuk menyelesaikannya. Semua sudah ada di kepala.
Sedetik, dua detik, semenit, merambat satu jam.
Tanganku tiba-tiba terasa tak bisa bergerak. Dua puluh enam simbol alphabet ditambah 10 angka dan ikon-ikon lain dalam tuts keyboardku seolah hilang arti.
Bahkan tiba-tiba 17 inch layar monitor di depanku langsung menjelma dirinya. A L A N A...Ah, pesan yang dikirimnya sore ini tak kusadar telah mendera batin.
Ingatan kembali tentangnya kurasa bagai pukulan emosional yang nyaris tak terlawan.
Mungkin seperti ini rasanya ketika Superman bertemu hijau batu krypton? Arrgghh...mengapa aku masih saja seperti ini.Alana adalah kosong.
Nama dan bayangannya telah kubunuh bertahun-tahun lalu.
Aku memang telah memaafkan segala pengkhianatannya. Walau sangat berat aku berusaha menaruh egoku di koordinat terbawah waktu itu.
Ia hamil dengan orang lain. Ia tak pernah mau pernah mau bercerita siapa lelaki itu. Bahkan, sampai akhirnya ia pergi menghilang aku tetap tak mampu marah.
Pergilah dengan semua cinta yang kau punya. Biarkan aku berjalan semampunya dengan mengumpulkan sisa-sisa patahannya. Getirku sudah lenyap.
Sebab, kegetiran yang bertumpuk-tumpuk tak akan terasa lagi sebagai kegetiran. Ia hanya akan menjadi rasa yang biasa.Sudah jam lima lebih lima menit. Jika harus datang menemui Alana sore ini aku telah terlambat. Aku tak peduli. Ruang dan waktu hanyalah buatan manusia. Sementara rasaku adalah adikarya Tuhan yang bahkan tak diberikan-Nya kepada malaikat sekalipun.Tak sampai sepuluh menit aku telah tiba di taman.
Taman akasia tempat kami dulu sering menghabiskan hari. Aku berjalan menuju bangku kosong di bawah pohon akasia terbesar di pojok kiri taman. Tempat duduk favorit kami.
Aku duduk sendirian. Alana belum datang.
Alana bukan lagi kosong.
Sore ini ia berubah wujud menjadi teka-teki silang buatku.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa jawaban.
Apa kabarnya?
Apakah yang diinginkannya dariku sore ini?
Masih kah wajahnya yang tirus membius itu mampu memompa adrenalinku?
Entahlah...Sedetik, dua detik, semenit merambat satu jam.
Alana belum juga datang.satu jam, dua jam, tiga jam. Alana belum juga hadir melegakan penantianku.
Gerimis mulai turun menemani malam yang semakin menua.
Sudah lima jam aku menunggu di bangku taman ini.
Sendiri.Akhirnya aku berdiri.
Berjalan menerobos gerimis.
Meninggalkan kosong, menuju pasti.Walau malam gerimis...
Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku pelan.
“Mari kita pulang. Biarkan dia istirahat dengan tenang”.
Aku menoleh, lalu mengangguk.
“Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Tapi, sudahlah. Dia telah memilih jalannya sendiri,” ujar ayah Alana sambil tetap memegangi pundakku.
Aku berdiri, kemudian mengiringinya meninggalkan pekuburan tempat Alana baru saja ditanam.
Belum genap lima meter berjalan memunggungi kuburan, aku sudah diburu rindu. Kusempatkan lagi menengok gundukan tanah basah tempatnya menjalani tidur panjang tanpa mimpi.
Tiba-tiba saja aroma kamboja meruap. Lembut.
Dalam sedetik seluruh pekuburan menjelma putih kapas.Aku tergeragap. Ah, malaikat memang tak pernah mau hadir terlambat. Ia selalu datang dan beruluk salam pada penghuni baru, tepat setelah langkah ketujuh pelayat terakhir meninggalkan makam
Daun-daun akasia yang berwarna kuning banyak berjatuhan.
Ia seolah mengabarkan kelelahan bertahan menghadapi kemarau yang membakar dan tak putus-putus.
Senja ini aku duduk sendiri di bangku taman akasia.
Satu demi satu kubuka tiap lembar halaman buku harian Alana.
“Sebelum masuk rumah sakit jiwa Alana tak sekecap pun mau berbicara. Dia hanya menulis. Rupanya ada banyak hal yang ingin disampaikannya kepadamu. Ambillah! Kamu lebih berhak untuk menyimpannya,” ujar mama Alana ketika aku mampir ke rumahnya seusai pemakaman.
Membaca buku harian Alana membuat kesedihan tumpah ruah.
7 Desember 2004 (malam jahanam)
Tuhaaaaan!!!!!! Takdir macam apa ini?????KAU biarkan bajingan bajingan itu mengobrak-abrik kehormatanku, menindas kemanusiaanku. Apa salahku????? Bukankah KAU yang berkehendak menjadikanku perempuan???? Kenapa KAU relakan orang-orang itu melecehkan martabat yang sudah kujunjung tinggi-tinggi???? Aku benci KAU Tuhan. Aku benci Tuhan yang telah membiarkanku diperkosa.
30 Desember 2004
Lihat, lihatlah...aku mual-mual tanpa ampun. Jangan...Jangan sampai aku hamil oleh benih para jahanam itu. Tolong Tuhan, sekali ini saja dengar dan kabulkan permintaanku!
31 Desember 2004
Fucking Pregnant...!!!!!!!!!!
1 Januari 2005
Resolusi awal tahun: Bunuh Diri
7 Januari 2005
Menatap mata teduhmu sore tadi membuatku luluh lantak. Mengingat caramu merayuku berbicara seperti menahan rasa perih sebab tertikam tepat di ulu hati. Aku mencintaimu. Sebab itu kalimatku tak pernah sampai. Aku tak pernah tega mengabarimu yang sebenarnya. Aku ingin kau membenciku. Karena itu bisa mengeruk perasaan bersalahku yang bergunung-gunung kepadamu. Aku ingin kau membenciku, seperti aku membenci takdir yang berjalan buruk.
8 Januari 2005
Aku masih mencintai gerimis, dan membenci badai.
13 Januari 2005
Virginia Wolf membunuh dirinya sendiri dengan mencebur ke dalam sungai. Hitler tewas setelah menembak kepala sendiri di lubang persembunyiannya. Cak Sakib tetangga sebelah rumah mati dikeroyok massa karena dituduh dukun santet. Ustadz Rojil mengembuskan penghujung nafasnya saat sujud salat di musala rumahnya. Adakah bedanya bagiku? Tidak ada! Kematian sesungguhnya peristiwa biasa. Kecuali ia menimpa orang-orang dekat kita.
18 Januari 2005
Janin dalam rahimku tumbuh bersama kebencianku pada hidup.
21 April 2005 (Saat aku ragu apa gunanya menjadi perempuan)
Ini hari kartini. Sudah seminggu aku tergolek di rumah sakit, Mama memergoki dan menggagalkan usahaku bunuh diri. Aku tetap hidup, tapi janinku mati.
18 Agustus 2005
Lucu. orang-orang menganggapku mulai gila. Padahal, sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya muak pada garis dunia yang tidak berpihak kepadaku.
19 Maret 2007 Dear Ma.Li.K.
Tiba-tiba aku kangen kamu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Aku ingin kita bertemu di taman yang dulu,tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Tahukah kau betapa sakitnya terpuruk pada keinginan yang tak sampai. Aku menyintaimu lebih dari sekedar yang bisa aku lakukan.
Alana.
21 Mei 2008
Hari ini aku masuk rumah sakit jiwa. Bukankah itu artinya aku sudah benar-benar gila??!!! Hahahahaha. Sungguh aneh orang-orang itu. Kamu percaya bahwa aku tidak gila kan?
28 Oktober 2008
Bisa jadi cinta memang buta, tapi kita tidak. Aku ingin memilihmu menjadi pengantinku di surga nanti. Kamu mau?
1 November 2008
Hari ini aku ulang tahun. Sejak pagi tadi aku sudah mandi.
Perawat rumah sakit memujiku cantik.
Iya, aku memang sengaja berdandan paling cantik hari ini.
Bukan untuk meniup lilin ulang tahun, tapi untuk pulang menuju Tuhan.
Dua hari lalu aku sudah berhasil mendapatkan arsenik yang kupesan pada tukang es cendol yang biasa mangkal di luar zaal rumah sakit jiwa.
Aku yakin racun itu akan menjadi menara Babel yang undakannya bisa mengantarku ke surga.Dunia, selamat tinggal.
Kututup buku harian Alana. Kurapalkan doa buatnya.
Lalu, kutinggalkan bangku taman akasia bersama gerimis yang tiba-tiba datang bersama semerbak kamboja.
Selamat sore Alana...
KUPU-KUPU
"Kecil mungil berwarna....warna-warni yang terangi alam... Sentuhan karya indah jika tergambar baik... Mata hati melihat kau sangat istimewa... Terbang melayang-layang hinggap dibunga-bunga...”
Barry menatap ku dengan lembut seraya bernyanyi Kupu-kupu—Melly Goeslow.Suara merdunya menggetarkan hatiku.Entah mengapa ia suka sekali menyanyikan lagu kupu-kupu—Melly Goeslow untukku.Dan selalu saja ia memanggilku dengan sebutan“Kupu-kupu kecil ku”.Tangan Barry melingkar hangat dipinggangku.Ia masih menatapku,kali ini tatapannya sayu.Senyum Barry merekah manis diparas wajahnya yang tampan.Kedua bola matanya yang bening beradu pandang dengan mataku.Dia benar-benar dewa Yunani ku.
“Kupu-kupu kecil ku,kamu tahu aku paling suka ngliat kamu lagi ngapain?”Aku memutar kedua bola mataku.”Hmmm...lagi apa?”Tanya ku balik.
“Aku paling suka melihat kamu ketika kamu menari Bali...aku suka sekali melihatnya.Seperti kupu-kupu...mata kamu mengerling indah dan tajam,gerakan yang gemulai,membisu dalam kerupawanan yang anggun,dan selendang yang terikat dipunggungmu itu seperti sayap yang akan membawamu terbang...melintasi langit.Kamu cantik sekali setiap kali membawakan tarian Bali.”
“Gombal ah !”
“Aku serius ! Kamu kan tahu sendiri,aku koleksi foto-foto kamu saat menari Bali.Aku suka sekali...aku ingin selalu melihat tarian indah kamu itu...” “Kalau begitu,saat aku ulang tahun nanti,aku akan mempersembahkan tarian Bali untuk kamu...”
Dua hari lagi sweet-seventeen ku.Aku akan menarikannya untuk mu Barry.Dihari ulang tahun ku yang kupikir akan menjadi moment yang paling indah,ternyata adalah sebuah moment terburuk disepanjang hidupku.Kenapa kamu memilih hari spesial itu untuk pergi meninggalkan ku...?Kenapa kamu bingkiskan luka untuk kado ulang tahunku?Tuhan...bebaskan aku dari penjara luka ini...
Arina terjaga dari mimpi buruk nya ! Sesak didada membuat nafasnya tercekat.Kenangan pahit itu selalu menghantui malam-malam Arina,membuat ia kesal setiap kali terbangun.”lagi-lagi mimpi itu...”batin Arina dengan penuh kebencian.Sekonyong-konyong pintu kamar Arina terbuka.Sosok cantik keibuan berdiri diambang pintu.
“Bisa ketok pintu dulu gak sih?”Ujar Arina kasar.Wanita paruh baya itu mengulum senyumnya.seperti biasa wanita itu selalu bersikap sabar pada Arina—putri semata wayang nya.
“Maaf ya sayang mama lupa.Keluar yuk kita sarapan ! Dari tadi malem kamu kan belum makan.”
Arina tak mengindahkan ucapan mama nya.Ia melirik jam di HP—nya,pukul 08.00 pagi membuat Arina langsung beranjak dari tempat tidur nya dengan panik.Ia menyambar handuk hendak bergegas mandi.
“Maaf ya sayang mama lupa.Keluar yuk kita sarapan ! Dari tadi malem kamu kan belum makan.”
Arina tak mengindahkan ucapan mama nya.Ia melirik jam di HP—nya,pukul 08.00 pagi membuat Arina langsung beranjak dari tempat tidur nya dengan panik.Ia menyambar handuk hendak bergegas mandi.
“Kenapa mama gak bangunin aku sich?Mama kan tahu hari ini aku ada ujian peningkatan sabuk karate ! Aku tahu kalo mama gak suka ikut aku karate,tapi jangan kayak gini donk ma !”Omel Arina.masih dengan kesabaran sang Mama,
”Sayang,mama gak tega bangunin kamu.Semaleman badan kamu demam.Kamu kan lagi gak fit,ndak usah ikut ujiannya dulu ya cah ayu.Mama takut kamu kenapa-napa.Kamu ini perempuan,mbok ya ndak usah neko-neko ikut karate segala.Mama lebih suka melihat kamu nari Bali. ”
“Stop ! Stop ! Arina udah bilang Arina benci nari Bali ! Dan aku nggak akan pernah nari Bali lagi ! Aku berhak menentukan yang aku mau.Masalah kondisi aku,Arina gak serapuh yang mama pikir ! Jadi gak usah manjain aku deh !” ‘Arina sampai kapan kamu marah-marah seperti ini?Mama tahu ini bukan kamu nak.Mama merindukan Arina yang dulu...’ Batin wanita itu sedih.
Luka yang Barry torehkan dua tahun yang lalu membuat Arina kehilangan menjadi dirinya.Ia marah terhadap apa yang terjadi didirinya.Kemarahan dihati Arina merubah dunia nya yang indah,menjadikannya sebuah dunia yang penuh dengan pandangan sinisme yang lekat.Arina memang tetap berdiri tegar setelah ditinggalkan Barry.Namun ketegaran yang dibangun dengan sinisme hanya akan membuat hatinya digrogoti luka terus-menerus,dan tidak akan pernah bahagia.Sudah lama Arina pergi meninggalkan dirinya yang dulu.Arina yang lembut,baik,ceria dan tidak tempramen tinggi...tertinggal oleh dimensi waktu. Arina membuka matanya.ia melihat disekelilingnya berputar-putar.Kepalanya pening sekali.Tubuh Arina terasa berat.Isi perutnya bergejolak hebat,mengguncang ulu hatinya.Lambung Arina serasa dikerat-kerat.Lidahnya pahit.Aroma rumah sakit menusuk hidung Arina.Arina mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan.Didapati wajah mama nya tersenyum lega melihat putrinya tersadar.Akal sehat Arina mencoba mengingat sesuatu.Ya Arina ingat betul,ketika ujian karate,Arina tak sempat mengisi perutnya dengan nasi.Ia hanya mengganjalnya dengan coklat dan menggilasnya dengan soft-drink .Alhasil setiba dirinya dirumah Arina muntah-muntah,dan kemudian tubuh nya tumbang.Arina merasakan sentuhan hangat menggenggam tangannya yang lemah.
“Anak mama kok bisa sakit sih?Ini akibatnya kalo gak teratur makannya...”Arina tersenyum tipis melihat wajah mamanya yang selalu saja tersenyum padanya. “Sayang,mama tahu apa yang bikin kamu jadi berubah.Tapi sampe kapan kamu menyiksa diri kamu terus...?”
“Arina lelah mah...Arina sudah lelah...” “Kalau kamu sadar sudah lelah,berhentilah berlari.Tegar itu bukan berarti harus membenci hal-hal yang membuat kamu teringat pada Barry.Itu hanya akan melukaimu saja sayang.Jangan membenci kehidupanmu untuk meredam kesedihan kamu.Rasanya bodoh sekali kalau kita membenci permasalahan-permasalahan yang sudah menjadi bagiaan dari kehidupan.Kamu harus menghadapinya,kamu gak boleh lari dari ingatan atas pengalaman pahit.Semakin pahit peristiwa yang pernah kita alami,maka semakin jagoan kita dikemudian hari.Relakan kepergian Barry nak...! Belajarlah menerima kehilangan dengan ikhlas.”Arina menghambur kedalam pelukan mamanya.Ia menangis sejadi-jadinya.Tangisan yang dulu ia tahan untuk tidak terjatuh setetespun.Kini meledak dalam dekapan seorang ibu...
“Maafin Arina mah...! Arina pikir dengan merubah diri Arina adalah cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakit karena ditinggal Barry.Selama ini Arina udah sok tangguh...padahal Arina rapuh mah...”
“Arina lelah mah...Arina sudah lelah...” “Kalau kamu sadar sudah lelah,berhentilah berlari.Tegar itu bukan berarti harus membenci hal-hal yang membuat kamu teringat pada Barry.Itu hanya akan melukaimu saja sayang.Jangan membenci kehidupanmu untuk meredam kesedihan kamu.Rasanya bodoh sekali kalau kita membenci permasalahan-permasalahan yang sudah menjadi bagiaan dari kehidupan.Kamu harus menghadapinya,kamu gak boleh lari dari ingatan atas pengalaman pahit.Semakin pahit peristiwa yang pernah kita alami,maka semakin jagoan kita dikemudian hari.Relakan kepergian Barry nak...! Belajarlah menerima kehilangan dengan ikhlas.”Arina menghambur kedalam pelukan mamanya.Ia menangis sejadi-jadinya.Tangisan yang dulu ia tahan untuk tidak terjatuh setetespun.Kini meledak dalam dekapan seorang ibu...
“Maafin Arina mah...! Arina pikir dengan merubah diri Arina adalah cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakit karena ditinggal Barry.Selama ini Arina udah sok tangguh...padahal Arina rapuh mah...”
Mama mengusap-usap punggung Arina dengan sayang.”Arina,sudah saatnya kamu menyelesaikan kesedihan dihati kamu.Barry sudah pergi...dan dia tidak akan kembali lagi.Dia hanya kenangan.Sementara kamu?Kamu masih memiliki kehidupan yang indah jika kamu mau membuka mata.Masih ada mimpi-mimpi masa muda yang harus kamu raih.Jangan berhenti melangkah,karena dunia tetap berputar.Selalu ada banyak pengganti dari rasa kehilangan.Sebenarnya,kalau saja kamu mau sadari,Tuhan selalu memberikan kamu kebahagiaan.Tapi kamu selalu menolak kebahagiaan yang datang dengan sikap sinis kamu.Kamu selalu saja membatasi diri kamu dengan dunia luar,menarik diri dari pergaulan,berubah jadi Arina yang pemurung dan galak.Sayang...Mama rindu Arina yang dulu,Arina yang ceria,Arina yang murah senyum,Arina yang penuh semangat,Arina yang gak pernah marah-marah,Arina yang suka menari Bali.Kembalilah Nak...jadi dirimu sendiri.Kalau dunia melukaimu,jangan merubah apa yang sudah tercipta indah dihatimu.Arina,jangan pergi lagi ya Nak,karena dunia merindukan kamu yang dulu.” Mama menghapus air mata diwajah putrinya yang masih tampak pucat.Arina tersenyum,senyuman yang sama seperti dulu lagi.“Mama,maafkan Arina ya...Arina udah bikin mama sedih...Arina janji Ma...Arina gak akan pergi kemana-mana lagi...Arina akan kembali jadi diri Arina lagi” Kali ini bukan Barry lagi yang menyanyikan lagu kupu-kupu—Melly Goeslow,kali ini Mama yang menyanyikan lagu kesukaan Barry.Kehebatan cinta seorang ibu terhadap anaknya tak pernah terkalahkan oleh apapun didunia ini. "Kupu-kupu jangan pergi...Terbang dan tetaplah disiniBunga-bunga menantimu Rindu warna indah dunia...Anak kecil tersenyum manis pandang tarianmu indahKupu-kupu jangan pergi...”
Kidung Kerinduan Seorang Ibu
Sore, di desa karang tengah prandon, Ngawi
Langit mulai berubah, sang surya meniti langkah dengan agungnya, berarak menuju bagian bumi yang lain. Dan untuk kesekian kalinya, kembali membawa harta terbesarnya, cahaya yang dibutuhkan seisi bumi. Pesonanya tak pernah jenuh kupandangi dari balik sudut gubuk kecilku diantara batang padi-padi yang baru kutanam seminggu yang lalu. Entah kenapa, aku seperti merasakan sebuah harapan baru ketika melihat sang surya menghilang secara perlahan, terdapat perpaduan warna-warna yang menunjukkan keindahannya dimataku. Melihatnya seperti membawa suatu pesan baru bagiku, untuk kembali yakin dan tak patah semangat untuk bertemu dengan anakku tercinta, yudi. Hati kecilku berkata, suatu saat anakku pasti kembali, kami akan hidup bersama dan mengganti waktu yang hilang dengan hari-hari yang lebih berkesan.
Entah berapa puluh musim tanam padi kulewatkan hari tanpa kehadiran anak semata wayangku. Aku hanyalah seorang janda beranak satu, jika pun bisa disebut begitu. Yang jelas, suamiku hilang setelah ia merantau ke malaysia beberapa bulan setelah pernikahan kami. Aku mempunyai seorang anak yang kuberi nama yudi. Aku bekerja sebagai buruh tani di desa, karena hanya pekerjaan itulah yang bisa kulakukan. Tanpa ketrampilan yang memadai rasanya tak ada pekerjaan yang bisa kulakukan. Bertahun-tahun aku merawat anakku seorang diri hingga akhirnya ujian itu pun datang. Yudi, merantau ke Malaysia atas bujukan seorang agen yang tak pernah jemu membisikkan gemerincing ringgit yang akan ia peroleh ketika bekerja disana.
“ Ah… yudiku malang… “
“Mengapa tak kau dengarkan perkataan makmu ini nak… “ batinku menjerit tiap kali aku mengingatnya. Betapa berbaktinya ia padaku, ingin membahagiakan aku dengan gaji yang akan ia perolehnya ketika pulang dari malaysia, tapi ia tak tahu bahwa kebahagiaan terbesarku adalah melihatnya bahagia di sisa waktuku yang tak banyak ini. Alangkah bahagianya melihat ia menikah, punya anak dan kami hidup bahagia seperti dulu. Walaupun kami bukan orang mampu-punya materi lebih-secara ekonomi, tapi aku yakin kami tidak akan kekurangan harta terbesar, bahagia dan berlimpah kasih sayang.
“ Mak, mak…” sebuah suara memanggilku dari arah utara desa.
“ Mak, mak si joko dah pulang… “ teriaknya ke arahku.
Kuedarkan pandangan mataku yang telah terkena rabun senja ini, kearah datangnya suara itu. Dari jauh kulihat siluet bayangan seorang pemuda berusia 25 tahun berlari kearahku dengan cepat. Aku dapat mengenalinya dari suaranya. Ia rahmat, teman yudi. Nafasnya tersengal-sengal dan tak teratur, ketika sampai di gubug. Keringat bercucuran dari dahinya yang hitam-terbakar oleh matahari-diakibatkan terlalu sering terpanggang matahari ketika bekerja di sawah. Persis seperti yudi, anakku yang kini amat kurindukan kehadirannya. Melihatnya sama saja seperti melihat yudi, postur tubuhnya yang kurus, tinggi, rambutnya yang lurus dan gaya bicaranya tak jauh beda dengannya. Maklum saja, mereka adalah teman sejak kecil, sehingga penampilan maupun karakter mereka hampir sama.
“ Mak, mak… si jo-ko dah pu-lang da-ri malaysia ” ulangnya terbata kepadaku tanpa memberi kesempatan pada tubuhnya untuk beristirahat dan mengambil nafas setelah ia berlari jauh.“ Tadi kulihat ia di tepi desa, turun dari sebuah taxi mak” urainya kepadaku.
Joko, ah… nama yang tak kan pernah kulupakan, karena ia mempunyai kaitan yang erat dengan yudi, anakku. Yudi pergi bertahun-tahun yang lalu bersama sepuluh orang pemuda desa yang terkena bujukan agen licik, si marno yang gila uang itu. Jika aku mengingatnya, ingin rasanya kubunuh dia, orang yang telah memisahkanku dari anak semata wayangku. Sepuluh pemuda desa tersebut pergi dengan marno, termasuk pula si joko. “ Tapi tak kulihat yudi ada bersamanya mak” terangnya sambil berusaha menyingkirkan kesedihan yang ingin ditepisnya, namun tak pelak tertangkap pula olehku, karena rahmat sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, sehingga aku hafal karakternya, tak satupun hal yang bisa luput dari penglihatanku. “ Mata tuaku terpejam sejenak, mencoba mencari harapan yang kian lama kian habis, habis oleh penantian dan kerinduan yang tak pernah bisa ku obati. Hanya kepulangan anakku yang kuharapkan, dengan begitu segala ksedihan, kerinduan dan penatianku selama ini kana terbayar seketika. Namun, nampaknya harapanku tak kan terwujud dalam waktu dekat.“ Antarkan aku ketempat joko sekarang, aku ingin mencari tahu dan mendengar sendiri dari mulut joko tentang yudi” perintahku cepat.
“ Baik mak, mari saya tuntun, kita jalan pelan-pelan saja” jawabnya sambil menggandeng tubuhku yang kini baru sembuh dari stroke beberapa bulan yang lalu. Stroke menyerangku setelah penyakit jantung lemah yang kuderita bertahu-tahun lalu.
“ Ah, tubuh tuaku, bertahanlah sampai yudi pulang, aku tidak bisa mati dalam keadaan seperti ini, tanpa tahu keberadaan anakku” kuseret langkahku pelan berusaha mengikuti langkah rahmat disampingku.
Joko, ah… nama yang tak kan pernah kulupakan, karena ia mempunyai kaitan yang erat dengan yudi, anakku. Yudi pergi bertahun-tahun yang lalu bersama sepuluh orang pemuda desa yang terkena bujukan agen licik, si marno yang gila uang itu. Jika aku mengingatnya, ingin rasanya kubunuh dia, orang yang telah memisahkanku dari anak semata wayangku. Sepuluh pemuda desa tersebut pergi dengan marno, termasuk pula si joko. “ Tapi tak kulihat yudi ada bersamanya mak” terangnya sambil berusaha menyingkirkan kesedihan yang ingin ditepisnya, namun tak pelak tertangkap pula olehku, karena rahmat sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, sehingga aku hafal karakternya, tak satupun hal yang bisa luput dari penglihatanku. “ Mata tuaku terpejam sejenak, mencoba mencari harapan yang kian lama kian habis, habis oleh penantian dan kerinduan yang tak pernah bisa ku obati. Hanya kepulangan anakku yang kuharapkan, dengan begitu segala ksedihan, kerinduan dan penatianku selama ini kana terbayar seketika. Namun, nampaknya harapanku tak kan terwujud dalam waktu dekat.“ Antarkan aku ketempat joko sekarang, aku ingin mencari tahu dan mendengar sendiri dari mulut joko tentang yudi” perintahku cepat.
“ Baik mak, mari saya tuntun, kita jalan pelan-pelan saja” jawabnya sambil menggandeng tubuhku yang kini baru sembuh dari stroke beberapa bulan yang lalu. Stroke menyerangku setelah penyakit jantung lemah yang kuderita bertahu-tahun lalu.
“ Ah, tubuh tuaku, bertahanlah sampai yudi pulang, aku tidak bisa mati dalam keadaan seperti ini, tanpa tahu keberadaan anakku” kuseret langkahku pelan berusaha mengikuti langkah rahmat disampingku.
Selangor, malaysia
Fajar mulai bersembunyi dibalik gelapnya malam, namun ada beberapa pemuda yang mengendap-endap menuju jalan raya berlari ke arah kota. Tampak raut kewaspadaan dan ketakutan tergambar jelas di mata mereka, ada enam pemuda berusia 20 tahunan berusaha menghindari kejaran police-police malaysia. Rupanya mereka adalah TKI gelap atau juga menjadi gelap karena ulah para cukong-cukong malaysia. Biasanya mereka melarikan diri dari pabrik/perkebunan tempat bekerja karena diperlakukan tidak adil, tidak digaji, atau bahkan disiksa jika tak mau bekerja sesuai harapan para cukong-cukong pemilik kebun sawit dan karet yang diluar perikemanusiaan dan tak mengenal kata istirahat. Jika berontak, mereka bisa saja membakar visa dan melaporkan mereka sebagai TKI ilegal pada kepolisian malaysia, begitu liciknya mereka tanpa menyadari hukuman yang menanti mereka di hari akhir, hari dimana segala sesuatunya dihisab tanpa merugikan siapapun.
“ Kita tidak bisa begini terus menerus teman-teman, bekerja diantara kejaran para manusia berhati batu itu, polisi-polisi malaysia yang tak mengenal hati itu. Uang kita sudah habis untuk menyuap mulut mereka, namun mereka terus saja mengejar kita jika bertemu. Seperti budak kita disini, dicambuk tanpa mengenal kata tua-muda, laki-laki maupun perempuan jika tertangkap. Aku rindu kampung halamanku, rindu ibuku yang semakin menua, tak bisa kubayangkan siapa yang menjaganya sekarang, sungguh aku berdosa pada ibuku tak mendengar kata-katanya untuk tak pergi ke malaysia” terang yudi dengan nada kemarahan yang berusaha diredamnya.“ Apa yang kaurasakan tentunya tak jauh beda denganku yudi. Namun apa yang bisa kita lakukan, kita tak punya visa dan tak bisa pergi ke Kedutaan RI untuk meminta pertolongan. Setiap hari ada satu TKI yang meninggal entah karena disiksa majikan atau mati saat berusaha melarikan diri, namun yang terdengar di indonesia hanyalah TKI legal yang terdaftar. Sungguh aku tak bisa berfikir lagi, bagaimana cara kita pulang, aku juga menahan rindu sama seperti yang kaurasakan yudi” timpal arif, pemuda berusia 27 th, asal ponorogo yang sudah di malaysia sejak ia lulus STM, air matanya menetes satu persatu. Raut wajahnya kini tampak lebih tua dari usianya yang muda akibat perjuangannya yang berat. “ Kita harus mengambil resiko teman-teman. Jika kita masih punya keinginan untuk pulang, besok kita pergi KBRI menumpang truk sayur ke kota, aku kenal baik dengan supirnya, ia pasti mau menolong kita” sambung fredi, pemuda hitam asal NTT. “ Jika begitu, kita besok pergi jam 2 pagi dan bersembunyi di truk sayur, semoga saja kita sampai di KBRI dengan selamat, Namun jika kiranya Allah berkehendak lain aku sudah siap, aku tidak bisa berada disini seumur hidupku” ucap lirih seorang pemuda paling muda diantara mereka, hamdani 20 th asal banyumas. “ Jika, begitu kita sepakat untuk pergi besok pagi? Tanya yudi pada kelima temannya. “ Ya, yudi” serempak mereka menjawab, penuh tekad dan semangat. Ketegaran dan semangat membara tampak menghiasai wajah-wajah mereka yang letih. “ Ayo kita kembali ke hutan untuk bersembunyi dan keluar esok pagi, semoga saja kita bisa selamat sampi KBRI, kita sudah lelah setelah bekerja seminggu “ perintah fredi. Mereka pun kembali mengendap-endap penuh waspada dalam gelap, mencoba mempertahankan denyut jantung mereka. Hanya demi satu tujuan, agar dapat memupuk harapan untuk bertemu dengan keluarga mereka. Sungguh apa yang mereka alami saat ini tak pernah terlintas dalam benak mereka sebelum berangkat ke malaysia. Agen-agen itu mendongeng tentang ringgit-ringgit yang akan mereka peroleh. Mereka bekerja di malaysia dengan membayar sekian juta untuk bekerja. Dan uang untuk mendaftar bekerja pun mereka peroleh dengan menjual harta berharga dikampung, sawah, sapi, tanah warisan, perhiasan keluarga, meminjam uang di bank dll. Hanya demi meraih mimpi, meraih kehidupan yang lebih baik dari yang mereka punya saat itu, andai mereka tahu apa yang akan menimpa mereka saat ini, tentu mereka tidak akan menukar kebahagiaan mereka dengan menjadi budak di negeri orang.
“ Kita tidak bisa begini terus menerus teman-teman, bekerja diantara kejaran para manusia berhati batu itu, polisi-polisi malaysia yang tak mengenal hati itu. Uang kita sudah habis untuk menyuap mulut mereka, namun mereka terus saja mengejar kita jika bertemu. Seperti budak kita disini, dicambuk tanpa mengenal kata tua-muda, laki-laki maupun perempuan jika tertangkap. Aku rindu kampung halamanku, rindu ibuku yang semakin menua, tak bisa kubayangkan siapa yang menjaganya sekarang, sungguh aku berdosa pada ibuku tak mendengar kata-katanya untuk tak pergi ke malaysia” terang yudi dengan nada kemarahan yang berusaha diredamnya.“ Apa yang kaurasakan tentunya tak jauh beda denganku yudi. Namun apa yang bisa kita lakukan, kita tak punya visa dan tak bisa pergi ke Kedutaan RI untuk meminta pertolongan. Setiap hari ada satu TKI yang meninggal entah karena disiksa majikan atau mati saat berusaha melarikan diri, namun yang terdengar di indonesia hanyalah TKI legal yang terdaftar. Sungguh aku tak bisa berfikir lagi, bagaimana cara kita pulang, aku juga menahan rindu sama seperti yang kaurasakan yudi” timpal arif, pemuda berusia 27 th, asal ponorogo yang sudah di malaysia sejak ia lulus STM, air matanya menetes satu persatu. Raut wajahnya kini tampak lebih tua dari usianya yang muda akibat perjuangannya yang berat. “ Kita harus mengambil resiko teman-teman. Jika kita masih punya keinginan untuk pulang, besok kita pergi KBRI menumpang truk sayur ke kota, aku kenal baik dengan supirnya, ia pasti mau menolong kita” sambung fredi, pemuda hitam asal NTT. “ Jika begitu, kita besok pergi jam 2 pagi dan bersembunyi di truk sayur, semoga saja kita sampai di KBRI dengan selamat, Namun jika kiranya Allah berkehendak lain aku sudah siap, aku tidak bisa berada disini seumur hidupku” ucap lirih seorang pemuda paling muda diantara mereka, hamdani 20 th asal banyumas. “ Jika, begitu kita sepakat untuk pergi besok pagi? Tanya yudi pada kelima temannya. “ Ya, yudi” serempak mereka menjawab, penuh tekad dan semangat. Ketegaran dan semangat membara tampak menghiasai wajah-wajah mereka yang letih. “ Ayo kita kembali ke hutan untuk bersembunyi dan keluar esok pagi, semoga saja kita bisa selamat sampi KBRI, kita sudah lelah setelah bekerja seminggu “ perintah fredi. Mereka pun kembali mengendap-endap penuh waspada dalam gelap, mencoba mempertahankan denyut jantung mereka. Hanya demi satu tujuan, agar dapat memupuk harapan untuk bertemu dengan keluarga mereka. Sungguh apa yang mereka alami saat ini tak pernah terlintas dalam benak mereka sebelum berangkat ke malaysia. Agen-agen itu mendongeng tentang ringgit-ringgit yang akan mereka peroleh. Mereka bekerja di malaysia dengan membayar sekian juta untuk bekerja. Dan uang untuk mendaftar bekerja pun mereka peroleh dengan menjual harta berharga dikampung, sawah, sapi, tanah warisan, perhiasan keluarga, meminjam uang di bank dll. Hanya demi meraih mimpi, meraih kehidupan yang lebih baik dari yang mereka punya saat itu, andai mereka tahu apa yang akan menimpa mereka saat ini, tentu mereka tidak akan menukar kebahagiaan mereka dengan menjadi budak di negeri orang.
Setelah sampai di sebuah gubug yang terletak ditengah hutan, mereka pun bergegas untuk beristirahat. Tampak di gubug mereka terlihat pemnadangan yang tak ubahnya dengan perumahan kumuh yang terus digusur di ibukota. Gubug mereka berukuran 4×5 meter, terbuat dari kardus, kayu bekas, seng-seng yang tak terpakai dari tempat kerja. Gubug itu cukup untuk menampung enam orang, dengan daapur di pojok ruangan yang dibatasi oleh kain. Terdapaat dua tikar besar sebagai als buta tidur, saatu ceret berisi air matang, meja buat makan dan beberpapa piring seng dan gelas plastik di atas meja. Kembali dingin menyergap, bulan ini memang awal musim penghujan sehingga cuaca seringkali tidak menentu, banyak nyamuk berkeliaran dan menggigit tubuh mereka. Namun nampaknya hal itu tak mempengaruhi tidur mereka, rasa letihlah yang mengalahkannya. Dengan selimut seadanya mereka berusaha menghalau nyamuk dan menghangatkan badan yang menggigil kedinginan. Dan mimpi tentang kampung halaman yang selama ini menjadi penyemangat untuk terus bertahan hidup. Dalam hutan itu terdapat beberapa gubug lagi, tentu saja sebagai tempat persembunyian para TKI tersebut. Yah, hutanlah tempat mereka bernaung selama ini, tempat mereka dan beberapa puluh TKI ilegal bersembunyi dari kejaran police malaysia.
Suatu malam di ngawi.
“ Aku tidak tahu dimana yudi sekarang berada mak, yudi melarikan diri bersama kelima pekerja lainnya saat menolak untuk menerima separuh gaji dan bekerja tanpa henti mak. Aku sudah menasehatinya supaya bersabar. Namun, ia tak mau mendengarkan. Aku dengar ia masuk hutan dan bekerja serabutan ditengah kejaran police malaysia. Sekarang ia menjadi TKI ilegal karena visa yudi ditahan oleh bos perkebunan. Aku pun pulang dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit gajiku dan pulang tanpa membawa hasil, tapi aku sudah lega mak, setidaknya aku bisa pulang menjumpai keluargaku” cerita joko penuh haru.
Kata-kata joko pagi tadi masih terngiang-ngiang di benaknya. “ Apa yang bisa kulakukan anakku? Tubuh ini telah semakin menua, mulai rapuh di makan usia. Aku bertahan hanya demi melihatmu pulang. Kenapa hal ini terjadi lagi padaku? kehilangan orang yang kucintai dengan alasan dan di negara yang sama? Bapakmu merantau ke malaysia sejak aku masih mengandungmu, hingga kini tak terdengar kabar beritanya. Akankah aku kehilanganmu setelah bapakmu? Hanya doa yang mampu kuberikan padamu nak, semoga kamu selamat, selamat pulang ke ngawi… “ batin wanita yang kini sudah berusia 55 tahun, rambutnya sudah memutih, kulitnya yang keriput membalut tulang yang hampir-hampir tak berdaging akibat beban pikiran dan penyakit yang ia derita. Namun, nampaknya penderitaan tak mau lepas dari bayangannya. Malam mulai mengisi sebagian hari, membawa orang-orang terlelap dalam mimpi, mimpi akan indahnya dunia yang mereka ciptakan diantara kenyataan yang menghimpit. Angin mulai berhembus pelan, belaiannya semakin membuat lelap orang-orang yang sedang tidur. Bintang-bintang pun mulai berlomba memperlihatkan sinar terindahnya, mereka bergantungan di atas permadani biru yang maha luas, tak bertepi dan dijangkau oleh akal manusia.
Kata-kata joko pagi tadi masih terngiang-ngiang di benaknya. “ Apa yang bisa kulakukan anakku? Tubuh ini telah semakin menua, mulai rapuh di makan usia. Aku bertahan hanya demi melihatmu pulang. Kenapa hal ini terjadi lagi padaku? kehilangan orang yang kucintai dengan alasan dan di negara yang sama? Bapakmu merantau ke malaysia sejak aku masih mengandungmu, hingga kini tak terdengar kabar beritanya. Akankah aku kehilanganmu setelah bapakmu? Hanya doa yang mampu kuberikan padamu nak, semoga kamu selamat, selamat pulang ke ngawi… “ batin wanita yang kini sudah berusia 55 tahun, rambutnya sudah memutih, kulitnya yang keriput membalut tulang yang hampir-hampir tak berdaging akibat beban pikiran dan penyakit yang ia derita. Namun, nampaknya penderitaan tak mau lepas dari bayangannya. Malam mulai mengisi sebagian hari, membawa orang-orang terlelap dalam mimpi, mimpi akan indahnya dunia yang mereka ciptakan diantara kenyataan yang menghimpit. Angin mulai berhembus pelan, belaiannya semakin membuat lelap orang-orang yang sedang tidur. Bintang-bintang pun mulai berlomba memperlihatkan sinar terindahnya, mereka bergantungan di atas permadani biru yang maha luas, tak bertepi dan dijangkau oleh akal manusia.
Selangor, jam 2 dinihari.
Pemuda-pemuda itu kembali merayap, berjalan ditengah ketakutan dan harapan baru yang mereka impikan untuk bebas. Bebas menghirup nafas di kampung halaman dan juga bebas dari status budak dan buronan yang mereka sandang. Apakah kesalahan mereka? Mencoba mencari keping demi keping uang di negeri orang untuk merubah nasib keluarga. Benar kata orang bijak, manusia boleh berencana namun Allah jualah yang memutuskan. Keinginan mereka ternyata bertolak belakang dengan kenyataan yang mereka alami. Tanpa mereka sadari beberapa polisi malaysia mulai mengendus keberadaan mereka, siap mencampakkan mimpi kebebasan yang baru saja mereka bangun. “ Freeze, tak usah nak macam-macam kami dari police malaysia!!! ” ucap seorang police malaysia sembari menodongkan senjata ke arah sekelompok pemuda yang terkejut, tak menyangka jika keberadaan mereka diketahui secepat ini. Jarak police dengan para pemuda itu 20 meter, jarak yang cukup dekat untuk mengintai nyawa para pemuda itu. Ketakutan jelas tergambar dari wajah mereka, peluh mulai mengucur deras dari wajah mereka. Mereka harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan nyawa yang kini di ujung tanduk. Tak sempat berfikir banyak, mereka hanya bisa mematung, pasrah dengan keadaan yang semakin tergambar degan jelas dibenak mereka. Disiksa, dicambuk tak ubahnya budak, diperlakukan tidak manusiawi seperti yang mereka dengar dari beberapa teman yang pernah tertangkap terlebih dahulu. “ Aku akan lari yudi, aku tidak mau mereka menangkap dan merampas kebebasanku” lirih fredi berucap pada yudi yang berada disebelahnya. “ Jangan gila kau fred, mereka bisa menembak mati kita sekarang. Mereka tak pernah main-main” balas yudi dengan wajah khawatir menatap temannya. Sementara itu beberapa polisi mulai bergerak berjalan, menuju ke arah mereka dengan menodongkan senjata. Apakah yang ditakutkan manusia , jika kebebasan menjadi mimpi terbesarnya, maut tak kan bisa menghalanginya untuk terus meraih keinginannya. “Aku tak peduli dengan mereka, ini satu-satunya kesempatan bagi kita untuk kabur. Sekarang atau tidak sama sekali” tegas fredi yang diikuti oleh anggukan keempat temannya. Yudi pun hanya bisa mendesah pasrah, sekarang ia mulai menata hatinya untuk bersia-siap untuk menerima kemungkinan terburuk, mati di malaysia dan tak bisa melihat emaknya. Waktu seakan tak mau berhenti memberi ruang pada mereka untuk berfikir, police semakin mendekat dan terlintas ide di benak fredi untuk melemparkan pisau yang ada dibalik bajunya pada empat orang police itu. Isyarat fredi dipahami oleh kelima pemuda lainnya dan serempak mereka pun melakukan hal yang sama. Lemparan pisau mereka tepat mengenai sasaran. Tak ayal lagi, para police itu menembakkan senjata api itu secara membabi buta ke arah pemuda itu. Detik terus berlanjut, hutan yang semula sunyi menjadi riuh oleh suara tembakan. Beberapa orang dari mereka terkena tembakan dan mengalami luka parah, namuan mereka terus berlari seolah tak merasakan luka yang ada pada tubuh mereka. Para pemuda itu terus berlari, berlari tanpa mengenal lelah, mencoba dengan sekuat tenaga meghindari tembakan. Pohon-pohon menjadi saksi bisu akan perjuangan sekelompok pemuda itu, dan hanya Allah yang mengetahui akhir dari perjuangan mereka.
Ngawi, 2 hari kemudian
“ Mak, mak…” teriak rahmat dari luar Tergopohku berjalan berusaha menemuinya, perasaanku mengatakan ada kejadian buruk yang terjadi. Sudah dua hari ini aku bermimpi yudi pulang, namun keadaannya jauh berebda dari yudi yang kukenal, dingin dan tanpa ekspresi.
“ Mak, yudi tertembak di malaysia dan meninggal saat berusaha melarikan diri, tadi pagi aku mendengar berita dari televisi” dengan berlinangan air mata rahmat mengabarkan berita tentang kemtian yudi. Duniaku seakan runtuh, anak semata wayang yang kunanti kepulangannya bertahun-tahun kini tewas di malaysia. Ya Rabbi, mengapa kau timpakan hal ini di akhir usiaku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, perasaanku semakin perih. Dan dunia pun menjadi gelap, aku tak bisa mendengar apapun lagi, sayup-sayup kedengar rahmat mengguncang-guncang tubuhku. “ mak, mak, mak… bangun mak, istigfar mak.. “ teriak rahmat pada sesosok tubuh yang kini tak bernyawa…
“ Mak, yudi tertembak di malaysia dan meninggal saat berusaha melarikan diri, tadi pagi aku mendengar berita dari televisi” dengan berlinangan air mata rahmat mengabarkan berita tentang kemtian yudi. Duniaku seakan runtuh, anak semata wayang yang kunanti kepulangannya bertahun-tahun kini tewas di malaysia. Ya Rabbi, mengapa kau timpakan hal ini di akhir usiaku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, perasaanku semakin perih. Dan dunia pun menjadi gelap, aku tak bisa mendengar apapun lagi, sayup-sayup kedengar rahmat mengguncang-guncang tubuhku. “ mak, mak, mak… bangun mak, istigfar mak.. “ teriak rahmat pada sesosok tubuh yang kini tak bernyawa…
Dan yang berpulang, telah menemukan kebebasan mereka, kebebasan dari dunia yang menjerat dan menunggu perhitungan Allah, tuhan semesta alam. Kerinduan yang menggelegak pun menemui kebahagiaannya… “Mak, mak itukah kau mak? Sekilas yudi melihat bayangan emaknya datang dari sebuah cahaya yang bergerak ke arahnya…
“ Yud, yudi…” mak, nampak tak bisa menyembunyikan kebahagiannya… “ Iya mak, ini yudi mak, maafkan yudi emak telah berdosa pada emak” tutur yudi dengan semburat wajah sedih
“ Tidak yud, kamu tidak salah. Mak tak sangka kita bisa bertemu lagi, tapi sekarang dimana kita yud?” Nampak raut heran pada wajah emak ketika menyadai mereka berada pada tempat asing yang tak dikenal… “ Mak, kita sudah berada di dunia yang lain mak, sekarang ita akan menghuni alam lain sampai kita dibangkitkan kembali mak” “ Baiklah yud, emak sudah ikhlas, emak sudah ketemu kamu….” Ujar emak dengan penuh kebhagiaan….
Dan segala derita telah terganti, segala kerinduan telah terobati. Penantian panjang akan dilalui. Kidung kerinduan pada sang buah hati pun berganti dengan kidung rindu pada sang pencipta. Kidung yang tercipta sejak mereka terlahir hinga akhir hayat. Apakah mereka akan bertemu kembali dengan sang pencipta? Hanaya amallah yang mampu menjawab, tapi nanti ketika telah tiba waktunya. Semoga, hanya itulah yang dapat mereka harapkan.
“ Yud, yudi…” mak, nampak tak bisa menyembunyikan kebahagiannya… “ Iya mak, ini yudi mak, maafkan yudi emak telah berdosa pada emak” tutur yudi dengan semburat wajah sedih
“ Tidak yud, kamu tidak salah. Mak tak sangka kita bisa bertemu lagi, tapi sekarang dimana kita yud?” Nampak raut heran pada wajah emak ketika menyadai mereka berada pada tempat asing yang tak dikenal… “ Mak, kita sudah berada di dunia yang lain mak, sekarang ita akan menghuni alam lain sampai kita dibangkitkan kembali mak” “ Baiklah yud, emak sudah ikhlas, emak sudah ketemu kamu….” Ujar emak dengan penuh kebhagiaan….
Dan segala derita telah terganti, segala kerinduan telah terobati. Penantian panjang akan dilalui. Kidung kerinduan pada sang buah hati pun berganti dengan kidung rindu pada sang pencipta. Kidung yang tercipta sejak mereka terlahir hinga akhir hayat. Apakah mereka akan bertemu kembali dengan sang pencipta? Hanaya amallah yang mampu menjawab, tapi nanti ketika telah tiba waktunya. Semoga, hanya itulah yang dapat mereka harapkan.
Untuk Jiwa
Hanya satu kata
Kangen
Tahukah kamu?
Pesan kenangan yang terus mengikutiku?
Kangen
Tahukah kamu?
Pesan kenangan yang terus mengikutiku?
Debar tak beraturan
Yang terus bersatu
Pertanyaan tak terjawab
Yang jadi teman
Yang terus bersatu
Pertanyaan tak terjawab
Yang jadi teman
Siapa yang bisa membacanya?
Baca dan menjawabnya
Biar aku tau
Jawab yang kucari
Baca dan menjawabnya
Biar aku tau
Jawab yang kucari
Aku tak bergetar lagi
Segalanya begitu sunyi
Dan tertawan
Dalam kata yang tak kumengerti
Segalanya begitu sunyi
Dan tertawan
Dalam kata yang tak kumengerti
Tak tahu seberapa dalam
Tanpa terbaca oleh hati
Tanpa kenal masa
Tanpa terbaca oleh hati
Tanpa kenal masa
Aku terus mengingat dua lengkung itu
Dalam sedih yang berluruhan
Di hati..
Dalam tawa yang menipu
Tanpa ada yang tahu
Di hati..
Dalam tawa yang menipu
Tanpa ada yang tahu
Hanya dua lengkungmu
Pembuka hati
Yang menjadi rahasia dan hartaku
Berharap kan segera mati
Pembuka hati
Yang menjadi rahasia dan hartaku
Berharap kan segera mati
Hanya suara
Yang terus bergema
Dalam jiwa
Berharap kan beranjak pergi
Yang terus bergema
Dalam jiwa
Berharap kan beranjak pergi
Sebuah ilusi
Yang tak mudah pergi
Setia menjengukku
Terus dan terus saja
Tinggal logika
Yang kuyakini
Dengan sepenuh hati
Aku kan menemukannya
Yang tak mudah pergi
Setia menjengukku
Terus dan terus saja
Tinggal logika
Yang kuyakini
Dengan sepenuh hati
Aku kan menemukannya
Aku kan menemukannya kembali
Dan tak kan kubiarkan pergi
Dua lengkung kebahagianku
Dan kan kutulis
Kisahku
Sehangat dua lengkung
ataupun
Sedingin warna kematian
Siapa yang mengerti?
Aku..
Ataukah kamu?
Dan tak kan kubiarkan pergi
Dua lengkung kebahagianku
Dan kan kutulis
Kisahku
Sehangat dua lengkung
ataupun
Sedingin warna kematian
Siapa yang mengerti?
Aku..
Ataukah kamu?
Mawar Layu Untuk Bunda
Di ruangan sempit ini aku hidup. Di ruangan pengap ini aku bertahan. Di ruangan gelap remang ini aku tertawa, menangis, dan merenung. Tanpa teman pastinya. Bunda.., sosok Bunda yang ku miliki sama sekali tak sama dengan yang orang lain miliki. Aku tak pernah sekalipun di anggapnya sebagai anak. Walau begitu Bunda tetaplah Bundaku dan aku tetap ingin selalu menjadi anaknya yang sesungguhnya. Tak di anggap anak bukan berarti ia tak merawatku. Setiap pagi dan sore Bunda mengantarkan sepiring nasi dan segelas air putih untukku biarpun tanpa senyum. Akulah yang selalu tersenyum saat melihatnya, walaupun tak berani menatap matanya bahkan menyapanya. Di kamarku hanya ada sebuah balai dari bambu tempatku berbaring, jendela kaca kotor yang menghadap langsung ke dunia luar yang selalu ingin ku pijak, dan sebuah pintu kayu yang dapat membuatku berada di dunia luar jika aku melewatinya. Melewati pintu itu untuk memijak tanah adalah hal yang sangat mustahil untukku. Tahukah..? aku telah 13 tahun terpenjara di tempat ini. Penjara yang Bunda buat untukku tinggal di dalamnya. Terserahlah..aku terima..yang penting aku masih bisa melihat Bundaku setiap hari. Bunda adalah orang yang menurutku tegas dan keras. Menurutku dia tetaplah Bunda yang baik meskipun tak pernah menganggapku ada di kehidupannya. Oleh karenanya aku juga menjadi sosok yang sangat tegar saat bunda menjadikanku pelampiasan emosi, bahkan kemarahannya ketika ia mempunyai masalah dengan siapapun. Yaa..akulah tembok keras yang selalu di hantam martil kemarahan atas kesalahan yang tak pernah ku buat. Terkadang aku merasa sangat kesepian. Ingin rasanya aku keluar bermain dan berinteraksi dengan orang asing di luar sana dan memasukkan kakiku pada kubangan air yang disebabkan oleh hujan yag tak kunjung henti. Aku sangat ingin membiarkan tuhan memandikan tubuhku yang kurus ini dengan air hujan yang di turunkannya. Namun apalah dayaku..? pintu kamarku selalu saja terkunci dari luar. Hingga akhirnya aku hanya dapat memandang dunia luar dari balik jendela. Dari tempat ini terlihat payung-payung bulat warna-warni melintas di bawah. Ya..kamar pengapku berada di lantai dua. Aku dapat lebih jauh memandang dunia luar dan deretan pegunungan di balik atap pertokoan di muka jendela kamarku. Itu cukup untuk melukiskan sejenak senyuman di wajahku.
“uhukk…uhukk…uhukk…”,aku sakit-sakitan dan terbatuk-batuk. Mungkin suara batukku terlalu keras hingga membuat Caroline, anak dari Bundaku dan sekaligus adik kandungku dari ayah yang berbeda merasa terganggu dan terdengar marah-marah di luar sana. Usiaku dengan Caroline hanya berbeda 1 tahun. Usiaku 15 tahun,dan Caroline lebih muda dariku. Yang berbeda dariku dengannya adalah dia memiliki segalanya yang tak ku miliki dan ingin ku miliki. Bundaku untuknya, ayahnya untuknya, kasih sayang semua untuknya. Menurutku dia adalah anak manja. Dari dalam sini aku bisa mendengarkan rengekan manjanya ketika menginginkan sesuatu. Dan pada akhirnya Caroline selalu mendapatkan apa yang ia mau. Sedangkan aku..? permintaanku hanya satu ‘ijinkan aku menginjak tanah dan bernafas di alam bebas, Bunda..biarpun sedetik saja…’. Keinginan itu tak pernah terwujud. Aku selalu merasa iri saat melihat Caroline, Bundaku, dan juga ayahnya pergi bersama menggunakan mobil tua milik ayah caroline. Betapa bahagianya jika aku juga bisa berada di antara mereka. Mungkin Bunda malu memiliki anak sepertiku. Anak yang tak jelas dari mana usulnya, anak yang sakit-sakitan, bahkan mungkin anak yang aneh dan bau karena sangat jarang tersentuh air. Bahkan mungkin, para tetangga tak ada yang menyadari bahwa aku ada dan juga hidup di rumah tua tetangga mereka. andai aku tahu siapa dan dimana ayahku, pasti ia akan selalu menjagaku dan membuatku tersenyum setiap saat…’,pikirku. ‘tapi apakah ayahku masih hidup..? apakah ayahku akan mengakuiku sebagai anaknya..? atau bahkan ia akan menendang dan membuangku…?’ Ingin rasanya aku bertanya pada Bunda, siapa dan di mana ayahku. Tapi aku takut. Aku takut jika Bunda marah dengan pertanyaanku. Aku takut jika bunda akan benar-benar membuangku dan menyingkirkanku dari kehidupannya. Aku takut tak dapat lagi melihat paras ayu bundaku.
“dokk..dokk..dokk..”, terdengar seseorang menggedor-gedor pintu dengan kasar.
“dokk..dokk..dokk..”, terdengar seseorang menggedor-gedor pintu dengan kasar.
“wooy.. bisa diem gak sih…? Ganggu orang idup aja.. mati sana loe biar gak ganggu orang idup..”,suara Caroline memaki. Aku diam mencoba menahan batukku. Kemudian terdengar sepasang kaki berjalan menuruni tangga. Selepas itu terdengar samar Caroline melanjutkan candanya dengan ayahnya yang saat itu sedang libur bekerja. Aku mulai menangis. Sungguh aku merasa sangat iri dengan mereka.
“uhukk..uhukk..”,ku buat selirih mungkin batukku. Sebisa mungkin ku tahan agar tak terbatuk. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaan mereka biarpun itu cukup menyakitkanku.
Seseorang mencoba membuka pintu kamarku. Suaranya terdengar berisik. Kurasa ia kesulitan saat membuka kunci gembok ruangan pengapku. Dan akhirnya pintupun terbuka. Terlihat sosok Caroline yang nampak cantik lengkap dengan gaun pesta dan perhiasan elok menghiasi leher, tangan, dan juga jemarinya. Tahi lalat di sudut kiri matanya memperanggun tampilannya. Sepertinya ia hendak pergi ke sebuah pesta yang meriah. Tangan kanannya memegang sepiring nasi putih tanpa lauk dan di tangan kirinya memegang segelas air putih. Ia meletakkannya di bawah pintu dengan kasar. Kemudian ia mengambil piring kotorku pagi tadi dan membawanya keluar, tidak lupa mengunci kembali pintu itu. Aku hanya memandangnya hingga ia menghilang,
Seseorang mencoba membuka pintu kamarku. Suaranya terdengar berisik. Kurasa ia kesulitan saat membuka kunci gembok ruangan pengapku. Dan akhirnya pintupun terbuka. Terlihat sosok Caroline yang nampak cantik lengkap dengan gaun pesta dan perhiasan elok menghiasi leher, tangan, dan juga jemarinya. Tahi lalat di sudut kiri matanya memperanggun tampilannya. Sepertinya ia hendak pergi ke sebuah pesta yang meriah. Tangan kanannya memegang sepiring nasi putih tanpa lauk dan di tangan kirinya memegang segelas air putih. Ia meletakkannya di bawah pintu dengan kasar. Kemudian ia mengambil piring kotorku pagi tadi dan membawanya keluar, tidak lupa mengunci kembali pintu itu. Aku hanya memandangnya hingga ia menghilang,
‘kenapa bukan bunda yang mengantarkannya padaku..? kemana bunda..?’, tanyaku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku berusaha bangkit dari balai bambuku yang setia menemaniku. Aku berhasil berdiri dan mencoba berjalan tertatih mengambil makananku untuk sore ini. Yaa.. dalam sehari aku hanya mendapat dua kali jatah makan. Kini kakiku mengecil. Kakiku bahkan nyaris lumpuh karena tak sering ku pergunakan. Tak cukup ruang untukku bergerak. Bahkan aku selalu membuang kotoranku di sebuah tempat kecil yang ayah Caroline buat di sudut kamarku. Tak ada air disana. Yang ada hanyalah kertas Koran bekas untukku. Miris memang. Mereka tak memperlakukanku sebagai manusia. Bahkan kucing Persia manja piaraan Caroline lebih hidup enak jika di bandingkan denganku. Intinya, aku tetap terima atas semua perlakuan mereka padaku.
***
Hari-hariku berlalu seperti biasa. Hanya diam dan terdiam di ruangan kecilku dan di ramaikan dengan batuk yang terus menyiksaku. Hingga pada suatu hari terasa tak seperti biasa. Pagi ini Bunda bertengkar dengan Ayah Caroline di lantai bawah. Suaranya terdengar menggelegar hingga terdengar sampai kamaku yang tertutup rapat ini. Bunda terdengar sangat marah. Tak kalah, Ayah caroline terus-terusan membentak bunda dengan kasar. “kamu ini jadi laki-laki.. mana tanggung jawabmu..? kerja buat anak istri aja gak becus.. Pakai rok sekalian..!!! masa kerja seperti itu aja gak beres sampai di pecat..?”, bunda terdengar mencela Ayah Caroline. “heh!! Maksud kamu apa..? mikir donk siapa yang sudah ngasih makan kamu selama 15 tahun..? haah..? gak ada aku pasti kamu sudah jadi pelacur yang menjajakan diri di terminal sana.. ngaca donk jadi perempuan..!!”, Ayah caroline membalas dengan memojokkan Bunda. Bundapun terdiam tak membalas. Sepertinya mereka menyudahi pertengkaran mereka pagi ini. Namun tak lama, bunda berteriak histeris, disusul dengan teriakan Caroline yang tak kalah histeris. “ayah..ayah..”,mereka memanggil-manggil Ayah. Mereke terdengar terisak. Apa yang terjadi pada mereka…? Apa yang terjadi pada Ayah..? aku ingin keluar dari sini dan melihat apa yang terjadi. Namun kurasa itu sangat mustahil. Percuma bila aku berusaha menggedor-gedor pintu untuk di ijinkan keluar. Siapapun tak akan peduli. Aku hanya bisa tertunduk dan diam. Menangis..? aku sudah terlalu sering melakukan hal itu di sini. Ya.. di tempat ini..!! Aku sadar, tangis tak akan merubah apapun. Per-cu-ma..!!
Hari-hariku berlalu seperti biasa. Hanya diam dan terdiam di ruangan kecilku dan di ramaikan dengan batuk yang terus menyiksaku. Hingga pada suatu hari terasa tak seperti biasa. Pagi ini Bunda bertengkar dengan Ayah Caroline di lantai bawah. Suaranya terdengar menggelegar hingga terdengar sampai kamaku yang tertutup rapat ini. Bunda terdengar sangat marah. Tak kalah, Ayah caroline terus-terusan membentak bunda dengan kasar. “kamu ini jadi laki-laki.. mana tanggung jawabmu..? kerja buat anak istri aja gak becus.. Pakai rok sekalian..!!! masa kerja seperti itu aja gak beres sampai di pecat..?”, bunda terdengar mencela Ayah Caroline. “heh!! Maksud kamu apa..? mikir donk siapa yang sudah ngasih makan kamu selama 15 tahun..? haah..? gak ada aku pasti kamu sudah jadi pelacur yang menjajakan diri di terminal sana.. ngaca donk jadi perempuan..!!”, Ayah caroline membalas dengan memojokkan Bunda. Bundapun terdiam tak membalas. Sepertinya mereka menyudahi pertengkaran mereka pagi ini. Namun tak lama, bunda berteriak histeris, disusul dengan teriakan Caroline yang tak kalah histeris. “ayah..ayah..”,mereka memanggil-manggil Ayah. Mereke terdengar terisak. Apa yang terjadi pada mereka…? Apa yang terjadi pada Ayah..? aku ingin keluar dari sini dan melihat apa yang terjadi. Namun kurasa itu sangat mustahil. Percuma bila aku berusaha menggedor-gedor pintu untuk di ijinkan keluar. Siapapun tak akan peduli. Aku hanya bisa tertunduk dan diam. Menangis..? aku sudah terlalu sering melakukan hal itu di sini. Ya.. di tempat ini..!! Aku sadar, tangis tak akan merubah apapun. Per-cu-ma..!!
Suara tangis mereka mulai menjauh. Dari atas terlihat mobil keluar dari garasi dan tancap gas entah kemana. Suasana berubah menjadi sangat sepi. Sepertinya hanya aku saja yang tersisa di rumah ini. Lagi-lagi mereka meninggalkanku seorang diri. ‘sudah biasa..!!’,pikirku. Aku masih berpikir tentang apa yang terjadi pada Ayah hingga membuat Bunda dan Caroline histeris. “semoga tak terjadi hal buruk apapun pada mereka. Biar bagaimanapun aku tetap menyayangi mereka. Mereka adalah bagian dari hidupku meskipun mereka tak menganggapnya..”,gumamku lirih. Telah cukup lama aku tak mendengar tanda-tanda Ayah, Bunda dan juga caroline pulang. Hingga akhirnya sang mentari kembali ke peraduannya dan malampun menjelang. Mereka masih tak kunjung kembali hingga akhirnya aku terletap berselimut hawa dingin dan mimpi tentang Bunda dan ayah yang menyayangiku. Aku sangat sering memimpikan sosok orang tua sesungguhnya yang utuh, harmonis dan selalu menyayangiku.
Saat aku terbangun, matahari telah meninggi. Mungkin sekitar jam 9 atau 10 pagi. Suasana masih sama. Sepi.. tanpa rengekan manja yang keluar dari mulut Caroline. Mereka belum juga pulang. Akupun masih berpikir dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi..? mungkinkah mereka pergi dan meninggalkanku sendiri disini hingga mati perlahan oleh penyakit ini dan juga kelaparan…? Hingga akhirnya sorepun menjelang. Terdengar suara mobil mendekat. Saat ku lihat, mobil itu masuk ke pekarangan rumahku. Mobil berwarna putih itu datang diikuti beberapa warga sekitar. Tak lama kemudian, mobil hijau tua milik Ayah Caroline pun datang. Bunda turun dari mobil. Ia terlihat memeluk Caroline yang sedang menangis tersedu. Aku hanya bisa melihatnya dari balik jendela kamarku.
‘apa yang sebenarnya terjadi..? apa yang terjadi..?’,hatikupun mulai bertanya-tanya. Tak biasanya suasana seperti ini terasa di rumah ini. Rumah menjadi ramai. Kali ini bukan dengan rengekan dan teriakan Caroline, melainkan omongan-omongan warga yang tak terlalu terdengar jelas olehku.
“dug..dug..dug..!!”,terdengar langkah kaki menaiki tangga. Terasa ada seseorang yang sedang berusaha membuku pintu kamarku. Pintu terbuka. Di sana ada Bunda dan juga Caroline yang menatapku dengan mata sembam mereka. Sepertinya mereka baru saja menangis. Aku yang kali ini berani menatap mata mereka perlahan dapat merasakan kesedihan yang mereka alami dan mulai menangis tanpa tahu alasannya. Dari mata mereka aku dapat membaca raut kesedihan dan juga kemarahan. ‘marah..?’ ya.. mereka terlihat marah dan kesal padaku. Apa kesalahanku yang membuat mereka marah..? entahlah..!!
Bunda mulai maju dan melangkahkan kakinya menuju ke arahku. Ia terlihat seperti monster yang hendak memakanku. Ia mulai menarik rambutku,menamparku, lalu mendorongku ke belakang hingga terbentur dinding di belakangku. Kemudian berbalik arah dan mengunciku kembali. Seperti itulah saat bunda menjadikanku pelampiasannya. Tak apa. Aku tetap menyayanginya. Pada malam hari, untuk pertama kalinya Bunda mengajakku keluar dari kamar. Aku di tuntun perlahan menuruni tangga dengan kakiku yang kecil dan lemah. Ia memegang pundakku dengan halus. Hal inilah yang selama ini ku harapkan dari Bundaku yang sesungguhnya. Seakan tak percaya Bunda melakukannya. Aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk pertama kali. Saat sampai di lantai bawah, para tetangga yang telah berkumpul memandang ke arahku dengan pandangan yang menurutku aneh. Tapi tak terlalu ku hiraukan. Di sana ada seseorang yang di baringkan dan di itari para tetangga. Caroline terlihat menangis di samping tubuh itu.
“ayah Caroline meninggal.. malam ini kita pergi ke pemakamannya.. dan kamu harus ikut..!!”,Bunda berbicara padaku dengan nada datar. Jujur, aku sedikit terkejut. Bagaimana dengan caroline yang selama ini selalu bermanja-manjaan dengan ayahnya.. mungkinkah ia sanggup…?
Waktunya tiba. Ayah Caroline harus segera di makamkan. Aku berjalan dituntun tertatih oleh seseorang yang tak ku kenal menuju lokasi makam yang katanya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di depanku, Bunda memeluk erat Caroline. Jujur, aku merasa iri. Tapi tak apa lah.. Caroline sudah terbiasa di manja, sedangkan aku tak sekalipun. Di perjalanan aku melihat setangkai mawar merah yang sedang segar merekah. Aku ingin memilikinya. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke orang yang menuntunku.
“ayah Caroline meninggal.. malam ini kita pergi ke pemakamannya.. dan kamu harus ikut..!!”,Bunda berbicara padaku dengan nada datar. Jujur, aku sedikit terkejut. Bagaimana dengan caroline yang selama ini selalu bermanja-manjaan dengan ayahnya.. mungkinkah ia sanggup…?
Waktunya tiba. Ayah Caroline harus segera di makamkan. Aku berjalan dituntun tertatih oleh seseorang yang tak ku kenal menuju lokasi makam yang katanya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di depanku, Bunda memeluk erat Caroline. Jujur, aku merasa iri. Tapi tak apa lah.. Caroline sudah terbiasa di manja, sedangkan aku tak sekalipun. Di perjalanan aku melihat setangkai mawar merah yang sedang segar merekah. Aku ingin memilikinya. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke orang yang menuntunku.
“bisa tolong ambilkan mawar itu tuan..?”,kataku sambil menunjuk ke arah mawar tersebut. Ia hanya memandangku. “baiklah..”, ia mengiyakan seraya tersenyum. Aku membalas senyumnya. Kemudian ia memetikkan setangkai mewar itu untukku. “terima kasih tuan..”, kataku. Ia kembali menuntunku menuju ke pemakaman. Saat pemakaman berlangsung, aku merasakan sesuatu terjadi pada diriku. Badanku terasa menggigil. Dadaku terasa sesak dan sakit. Mataku mulai berkunang-kunang. Entah apa yang terjadi hingga akhirnya semua terasa gelap.
Saat aku terjaga, aku telah berada di sebuah kamar yang cukup luas dan bersih dengan dinding berwarna merah muda. Pandanganku masih kabur. Namun perlahan membaik. Tak ada orang lain di ruangan ini. Hanya ada aku. Aku melihat deretan boneka tertata rapi. Disana terdapat sebuah foto. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Aku berusaha bangkit dan berjalan tertatih mendekati foto itu. Ternyata itu adalah foto Caroline bersama Bunda. Ya.. aku sedang berada di kamar Caroline.
“mawarku..”, aku berbalik menuju ke ranjang tempatku terbaring barusan. Syukurlah.. mawarku masih ada. Aku ingin memberikan mawar ini untuk Bunda. Aku ingin menuliskan sesuatu untuk bunda. Setidaknya untuk menghapus sedikit kesedihannya. Tapi apa yang bisa ku tuliskan..? aku tak pernah sekalipun di ajarkan baca tulis. Aku tak mengerti cara menulis dan mengungkapkan isi hatiku. Ah.. apapun laah.. aku ingin memberikan kado tak berharga ini untuk Bunda. Kembali aku merasakan kesakitan yang sangat mendalam. Entah karena apa. Aku terjatuh tersungkur di samping ranjang, tak kuat menahan beban tubuh kurusku sendiri. Mataku masih terbuka. Aku masih sadar, merintih menahan sakit. Sepertinya ada sesuatu yang mendorong-dorong keluar dari perutku. Rasanya mual. Akhirnya sesuatu itupun keluar. Sungguh menjijikan. Untuk pertama kalinya aku muntah darah. Darah merah kehitaman kental keluar dari tubuhku, mempermerah setangkai mawar yang mulai layu yang ada di genggamku. Awalnya lega rasanya. Namun tak lama, kesakitan yang lebih dahsyat menghantamku.
“Oh tuhan.. pertanda apakah ini..? apakah engkau akan mengambilku sekarang..? jika memang sekarang waktuku.. ijinkan aku memberikan kado terakhir ini untuk Bundaku Tuhan.. Aku sangat menyayanginya meskipun ia telah menjadikanku sia-sia. Ijinkan aku berbakti padanya ‘UNTUK TERAKHIR KALI’..”, Mungkin inilah harapan terakhirku. Saat mataku hendak terpejam, entah dari mana Bunda telah berada di depanku. Ia menggenggam erat tanganku. Aku tahu, tak akan ada bunda yang tega membiarkan anaknya kesakitan di ujung maut. Aku yakin, dari hatinya yang terdalam, walaupun itu hanya setitik.. ia masih mempunyai rasa sayang untukku,anaknya biarpun rasa sayang itu datang terlambat.. sangat terlambat. “Ocha.. Bunda sayang sama kamu..”,kata sayang yang selama ini ku harap, kini terucap dari bibir Bunda. Kecupan di kening untuk pertama kali juga bunda berikan. “Bunda.. maaf’in Ocha Bunda.. Selama ini Ocha selalu bikin bunda marah, kesal sama Ocha.. Ocha Cuma bisa kasih mawar layu ini untuk bunda”, kataku terbata, sembari menyodorkan mawar layu untuk bunda. “Ocha pergi.. Bunda jangan nangis.. Ocha sayang sama bunda..juga semuanya.. selamat tinggal semuanya..”, hanya itu kata terakhir yang terucap dariku sebelum aku pergi.Disini,aku sangat berharap bunda akan menyimpan mawar layu dariku sebagai ungkapan rasa sayangnya untukku. Kini aku telah memenuhi keinginan adikku, Caroline, yaitu mati agar tak lagi mengganggunya dengan suara batukku.
ketika iblis bertamu pada Muhammad
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah:
“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.
”Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.
”Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata: “Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”
” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”
“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa tamumu?”
“Siapa tamumu?”
“Pencuri.”
“Siapa utusanmu?”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”